Kaum Ibu, Sungguh Mulia Engkau

Wanita kaum ibu engkau begitu mulia di hadapan Allah, engkau begitu suci dalam perangaimu, engkau begitu kuat mendidik anak-anakmu

wahai kaum wanita, didalam hatimu paling dalam ENgkau begitu penuh cinta dan kasih, penuh tanggungjawab dan kepasrahan yang sungguh

wahai kaum ibu, Engkau begitu kuat melahirkan generasi mulia, ENgkau tahan berjuta rasa sakit demi anak-anakmu, Engkau korbankan semua daya dan cinta kasihmu untuk anak-anakmu

wahai kaum ibu, Engkau begitu penuh cinta dan kasih bagi lelaki dan anak-anakmu, engkau begitu sayang, lemah dan pasrah ketika berhadapan dengan mereka, Engkau menuruti mereka karena kasihmu, sekalipun itu bertentangan dengan Jalan Allah, jalan yang ditunjukkan oleh Rasul Nya.

Wakai Lelaki, cintailah, sayangilah, kasihilah wanitamu,
wahai lelaki, datangilah istrimu ketika melahirkan,
berjuta rasa sakit ia tahan demi engkau dan anak-anakmu

wahai lelaki, wanita itu penuh kasih, dan sayang, janganlah engkau sakiti mereka, jangalah Engkau didik mereka dijalan yang salah, Tunjukkanlah mereka Jalan yang di Ridhoi Allah dan Rasul Nya

Wahai lelaki Janganlah engkau umbar Nafsumu kepada mereka, karena mereka sangat lemah dihadapan ENgkau yang dikasihininya,
wahai lelalaki jagalah Rahasia Engkau dan Dia dari orang-orang.
wahai lelaki jagalah kehormatan Istrimu dihadapan orang-orang.
wahai lelaki penuhilah tanggungjawabmu untuk mencukupi nafkah buat mereka.

kasih sayang dan cinta, juga makan, minum pakaian dan tempat tinggal sebagai mahligai Allah dimuka bumi ini.

wahai lelaki perkuatlah Imanmu kepada Allah, sebab engkaulah pemimpin wanitamu. ajari mereka tuntun mereka, dan sayangi mereka.

Advertisements

Benarkah Identitas Ke-Buton-an Telah Hilang?

Serpihan Kapal-Kapal Pedagang Buton

Serpihan Kapal-Kapal Pedagang Buton (bhoti)

Petite History keluarga nelayan Buton

Tadi malam saya mencoba mencari-cari petuah atau falsafah -buton- nenek moyang yang pernah ada, atau cerita-cerita pekerjaan, tantangan saat mencari sebuah nafkah hidup di era kolonialisme belanda. Saya melakukan itu adalah upaya saya menemukan kembali kepingan sejarah masa silam yang pernah buyut2ku kerjakan. Bukankah kita tidak boleh melupakan sejarahnya, bisa dibilang cerita kecil dari gelombang peradaban. Sebuah upaya survive ditengah hantaman tantangan hidup yang serba sulit.

Sebagai orang yang hidup di daerah kepulauan, letaknya dianak kaki pulau sulawesi, Buton tentu saja, merupakan suatu keharusan penduduk mayoritas mengantungkan hidupnya pada lautan. Mereka bersahabat, berteman dengan lautan dan akrab serta jeli melihat perubahan alam.

Tentu saja tidak semua hal bisa didapatkan dilautan, misalkan saja sandang, atau barang tekstil, mebel, keramik dsb. Karena itu mengharuskan orang-orang yang hidup dipulau-pulau itu harus melintasi pulau, dan melewati samudra yang luas. Buyutku, merupakan salah satu pedagang, ia menjadi distributor antara pulau-pulau, sekaligus menjual barang-barang eceran ke kampung-kampung ke pulau-pulau kecil disudut-sudut sulawesi di hamparan pulau wakatobi –singkatan, wangi-wangi, kaledhupa, tomia dan bhinongko– .

Dalam perjalanannya itu, mereka menggunakan sampan biasa disebut “bhoti”, sebuah sampat berukuran sedang, yang bisa menampung penumpang kurang dari 10 orang. Pada waktu itu, mereka berlayar hanya menggunakan layar, dan bantuan kejelian melihat, perubahan angin, iklim, cuaca dan sigap melewati celah-celah gelombang dan badai bila menerpa. Kadang-kadang kabut mulai menyelimuti mereka, melihat keadaan seperti itu, mereka tidak mencari pulau kecil untuk berteduk, tidak juga pasrah dengan keadaan, tidak juga surut kebelakang tapi maju menantang badai, segera menurunkan layar. Dan menantang gelombang besar, dengan cara membelahnya dengan kapal kecil mereka.

Bagi mereka “Sekali layar terkembang pantang biduk surut kebelakang” itulah filosofi terkebal yang selalu dipercara teguh oleh orang-orang pulau yang tinggal di sulawesi. Mereka ini dalam pelayaran dahulu dikenal dengan istilah BBM (Buton Bugis Makassar). Mungkin karena tangguhnya itu, dikalangan mereka perseloroh “Lebih baik badai besar yang datang dari pada lautan yang tenang tanpa angin” karena itu, membuat mereka tidak bisa pergi kemana-mana.

Buyutku, sebagai seorang pedagang, ia membeli barang-barang dagangan ke singapura, jawa, sumatera dan kalimantan. Oleh karena itu, ia harus menyeberangi lautan lepas dengan segala tantangannya. Untuk kesana, mereka harus menghabiskan waktu sebulan di lautan dan ransum yang sangat terbatas, tak jarang mereka harus pintar-pintar menghemat makan.

Selain tantangan ganasnya samudra, mereka juga menemukan tantangan gerombolan perompak, yang bisa datang kapan saja, menjarah semua isi kapal. Tak jarang kapal-kapal pedagang yang berhasil dijarah. Mereka (perompak:red) tenggelamkan dan orang-orangnya dibunuh dengan sadis.

Dengan demikian bahwa masyarakat ini dibentuk, digembleng oleh lautan, punya kebudayaan sendiri, filosofi sendiri yang dibangun dari fondasi kebersamaan penduduknya, dengan falsafah “Pobhinci-bhinciki kuli”.

Ada kisah menarik buyutku ketika berhadapan dengan perompak ini, ketika itu ia, lagi pergi memancing ikan tidak jauh dari pulau buton, setelah ia mendapatkan ikan hasil tangkapannya, ketika itu jam 03.00 AM, pagi. Malam masih menampakkan kegelapannya. Tiba-tiba ada gerombolan perompak, waktu itu ada tiga orang, masing-masing menggunakan topeng menggunakan perahu agak besar dibanding yang digunakan oleh buyutku itu.

Dalam penyamaran, dan juga keadaan samar-samar seperti itu, mereka datang. Awalnya buyutku menganggapnya dengan positif, tapi sesaat kemudian ia dengan jeli melihat itikad yang tidak baik dari gerombolan perompak ini. Disuruhnya lah buyutku untuk menghitung jumlah ikan yang akan dijual.
Manga gagariakamo adhi ikane yitu

Dari cerita-cerita yang berkembang waktu itu, sudah banyak korban yang dilakukan oleh perompak itu kepada nelayan-nelayan setempat, modusnya, dengan menyuruh “si nelayan” untuk menghitung jumlah ikan. Dalam keadaan menunduk menghitung itulah perompak melakukan aksi brutalnya yaitu dengan sigap mengayunkan “bhadi” – istilah buton untuk badik-parang kecil – ke kepala “si nelayan” sampai kepalanya “terpotong”. Setelah mati, mereka lalu menjarah ikan beserta sampan nelayan itu

Menginterpretasi firasat buruk itu, sesaat kemudian buyutku waspada dengan terus memegang bhadinya dan menyuruh para perompak itu untuk menghitungnya sendiri.
Gagarimea yingkomiu adhi” buyutku menyuruh.

“Bholimo, gagarimea yingkita” tetap perompak itu ingin menyuruh.

Mengalami itu, bukan karena takut tapi karena keadaan tidak memungkinkan untuk melawan,  sesaat kemudian buyutku menggunakan ilmu “Sawurondo” – ilmu menghillang yg diwariskan dari secara turun-menurut dari buyutnya juga- dan menganti keberadaanya dengan “tangkulea” –istilah buton untuk bonkol jagung-, lalu ia (buyukku;red) mengayuh dengan cepat lari dan bersembunyi dikegelapan malam, pulang untuk menuju ketepi pantai.

Sementara itu para perompak tadi dengan keheranan melihat nelayan tadi menjadi tangkulea, akhirnya mereka cuman berputar-putar mengelilingi tangkulea itu.

Ditepi pantai, sementara mengangkat kapalnya untuk berlabu di pantai. Datangnya para perompak itu, berlaga seolah-olah tanpa apa-apa, topengnya pun telah dilepaskannya.

sarongia yinda kumatau yingkomiu” –kalian kira saya tidak tahu kalian- buyurku bergidik lalu menghardik.

Sie” -ini- ia menunjukan badik diangkatnya tinggi-tinggi, mengancam dan menantang para perompak itu.

umacapu-macapuaka, yincisiimo mopogauna” –kalau kalian beranri macam-macam, badik ini yang akan bicara- sekali lagi menghardik.

Lalu para perompakpun itu pun, pergi sambil tertunduk malu. Yang tiada lain mereka itu adalah orang dipulau-pulau seberang tidak jauh dari pulau buton, yg juga saling kenal dengan buyutku satu sama lain. Keberanian mempertahankan apa yang menjadi hak-haknya lah yang menjadikan ia pantang akan ancaman walaupun meregang nyawa karena itu.

Generasi baru Buton

Beda zaman, beda juga tantangannya, generasi sekarang ini telah terlalu terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan atau hedonisme modernisasi. Serba mudahnya mendapati apa yang di  inginkan, semua hal sudah serba ada, berpayah-payah tidak lagi dilakukan, pertua-petua telah banyak dilupakan, cerita-cerita masa lalu sudah dinggapnya tidak lagi berarti,  menyebabkan generasi ini mengalami krisis identitas kebutonan. Bagi saya, bukanya tidak mau menerima perubahan, nilai-nilai dari luar, tetapi filosofi, nilai-nilai buton harus menjadi penilai akan nilai-nilai luar yang masuk dengan begitu, identitas buton akan selalu menjadi raja di tanahnya sendiri.

Ditengah krisis identitas kebutonan itu, banyak generasinya akhirnya mencari diluar entitasnya, hari ini muncullah generasi dengan bentuk baru hasil “Jiplakan” dari entitas orang diluar buton itu sendiri. Munculnya pun bermacam-macam, ada yang berwujud etnis, agama, sekte, aliran pemikrian dsb. Masing-masing mereka menjanjikan kemakmuran buat negeri buton tapi yang terjadi adalah pemaksaan disatu pihak dan pembangkangan dipihak lain. Bagi saya, orang berdebat “agama or keyakinan” itu tiada lain hanyalah upaya mencari ketenagan batin dari banyak pilihan yg ada. menyeret-nyeret orang lain agar empati padanya. Mereka lupa bahwa membangun masyarakat berperadaban tinggi degan segera adalah suatu keniscayaan yg tidak bisa ditawar.

Pola ini terus berlanjut tak jarang, antara sesama generasi buton saling mengancam, tak jarang terlontar saling membinasakan satu dengan yang lainnya, kacaunya, itu berlanjut berlarut-larut tiada akhir. Saya berpikir, apakah keadaan begini akan bisa mewujudkan kemakmuran untuk semua sebagaimana cita-cita mereka itu? Saya kira sangat jauh bahkan kecil kemungkinannya.

Bagiku Buton itu dibentuk, dari kegelisahan para founding fathernya dari pertikaian-pertikaian atas nama politik kekuasaan negeri-negeri besar di seberang samudera sana. Mereka ingin menciptakan negeri yang punya identitas sendiri, tidak menjadi otoriter, suasana egaliter dikedepankan antara pengurus negeri dengan rakyatnya, sehingga kemakmuran dan kesejahteraan bisa diwujudkan.

Kenapa juga generasi kita tidak mencontoh generasi-generasi awal buton diri dulu, membebaskan diri dari sejarah bunuh-bunuhan, memaksanan alirannya sendiri yang benar, keupaya membangun kemajuan disegala lini bidang keilmuan, membangun komunitas diskusi, kreatif dsb. Tidak seperti sekarang ini masih di cap sebagai salahs satu “Daerah Tertinggal”. Tapi problem besarnya adalah siapa yang akan meneruskan cita-cita besar founding father kita ini?

Ah. Mungkin ini hanya celoteh yang tidak ada artinya…

Note: Cerita kecil di atas adalah hasil penuturan langsung buyutku ke ibuku langsung waktu masih tinggal sama-sama (ia yang bertanggungjawab mengurus hari tua buyutku), yang ia sampaikan kembali kepada anak-anaknya.

Yogyakarta, 1 Juli 2013

Salam

by Umaee

Membaca Masyarakat Indonesia Modern

SurvivorPersoalan menapaki jalan kehidupan ternyata jauh lebih sulit dan berliku ketimbang menghabiskan waktu dalam tidur diatas kasur empuk. Waktu begitu terbuang dengan kesia-siaan. Bilasaja kehidupan hanya bisa dijalani dengan demikian tidak jadi masalah, akan tetapi kehidupan itu lebih berat, bahkan jauh lebih berat sampai bara api nerakapun akan begitu terasa demi untuk menyambung kehidupan apalagi seperti cita-cita besarmu ingin mengubah masyarakatmu menjadi lebih baik dan lebih bermartabat.

Sementara masyarakat telah lama digandrungi oleh pemberitaan infotaimen yang tidak mendidik, sekaligus menjerumuskan, yang coba terbebas dari itu malahan beralih kepada ajaran fanatik agama yang menganggap orang lain adalah kafir bin sesat, klaim kebenaran hanya pada kelompok mereka masing-masing.

Tidak terkecuali, mulai dari siswa sekolah menegah atas sampai mahasiswa bahkan guru, lebih keterlaluan lagi orang tua. Benar-benar ambrung moral dan etika bangsa ini.

Ada sedikit mahasiswa yang mencoba rajin mengerjakan setiap tugas yang dia emban padahal terbebas dari itu, ia menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan kegembiraan-kegembiraan yang disediakan oleh mara pemuja hedonisme. Belum lagi pengusaha hiburan, usaha-usaha kreatif begitu susah ditemui untuk kalangan orang banyak, yang ada hanyalah kapitalisasi modal sebesar-besarnya. Sehigga hanya kelompak masyarakat yg beradalah yang mempunyai kesempatan memperoleh itu semua.

Begitu jauhnya generasi-generasi ini pada marwah kemanusiaan, sehingga hubungan toleransi, kebersamaan telah pupus tak terkira. Pemerintah selayaknya yang jadi pendorong dan pelindung, malahan ikut-ikutan bersikap ekslusif, pertengkaran dibiarkan, kritik tak didengarkan, sebaliknya puja-puji disambut baik, nama baik dijunjung tinggi, harga diri dikorbankan demi sebuah reputasi internasional dan segudang piagam-piagam penghargaan lainnya.

Begitu bengisnya arus globalisasi, teknologi dan komunikasi sekarang ini, kapitalisasi disegalah hal, sehingga tekanan mental begitu kuat menyandra semua lapisan masyarakat. Mereka yg tidak mampu dan mempunyai akses yang baik pada sumber-sumber kapital akan mengalami suatu “Mental Depresiasif” tidak jarang kita menemukan “Mental Breakdown”. Yang berujung pada “Skizofren” dan “Mental disorder” serta “Suicide”

Mereka-mereka yang bertahan dari arus besar ketidakberesan hanya dalam jumlah kecil saja ada dimasyarakat, mereka-mereka yang dengan gigih berjuang dipelosok-pelosok negeri, bekerja dalam diam untuk kemanusiaan dan masyarakat. Puja-puji, piagams penghargaan tidak ada artinya, bukan itu yang mereka harapkan, sebuah senyum tulus dari orang-orang yang dibantunya sudah merupakan suatu kebahagiaan terbesar tiada terkira. Bagi mereka mengabdi pada masyarakat dan kemanusiaan adalah tujuan besarnya.

Salam

by Umaee

Kasih sayang “ibu”

Banyak orang menyangka orang hebat itu lahir hanya dengan sendirinya, berjuang dengan usaha dan kerja sendiri. Tapi jauh dari itu, orang-orang besar selalu bisa dan senantiasa berada dalam kondisi, lingkup, orang-orang penuh semangat perjungan  saat yang sama  ada Seorang tangguh penuh cinta kasih, empati yang paling dalam diberikan tanpa sedikitpun runtuh, ia tetap utuh.

Wanita terutama kaum ibu, adalah Manifestasi segala bentuk kasih sangan paling dalam pribadi yang tangguh itu terkumpul. Tak peduli engkau adalah orang pailng jahat sekalipun  ia merupakan orang pertama mengampuni, juga tak surut cinta kasihnya pada engkau kalrena perbuatanmu itu.

Didirinya segala kasih sayang Allah terlimpahkan, didirnya segala rasa cinta diberikan, walaupun kondisi buruk mengenai orang-orang dikasihinya ia hanya berdoa  kepada sang pencipta, serta menitikkan air mata cinta nan sendu bukan untuk dirinya tapi untuk dosa orang-orang dikasihinya  agar diberi kekuatan dan ketabahan menjali ringroad kehidupan ini. ibu adalah benteng terakhir sekaligus terdepan menjaga kasih sayang itu,  walaupun orang-orang dekat telah acuh sementara ia tetap teguh tak tergoyahkan. sementara ibu hanya berkeluh kesah dan menyandarkan diri pada Tuhannya.

Dalam keadaan tangis penuh sendu itu, ia memposisikan diri sebagai wadah menampung semua beban buruk orang yang dikasihinya dan segera mentransformasikannya kedalam  suatu ledakan air mata, dan penghayatan dalam dalam tetes-tetes air mata yang jatuh itu.

Alangkah berdosanya anak, mereka yang dicintainya, merasa acuh, apatis melihat ibunya tangis sementara ia hanya memandangi, dan menerka-nerka sambil acuk ada apa gerangan. Tidakah sesekali bertanya berempati ada apa gerangan hingga engkau tangis seperti itu?
lakukanlah maka ia akan berterima kasih dan merasa terhibur, bahwa dirinya tiadalah sebela tangan memberi cinta kasih yang sangat dalam itu.

Lelaki yang tangguh, panglima perang yang gagah berani, pemimpin yang kuat selalu mempunyai sandaran kuat sekaligus sumber kekuatan, pemberi optimisme, pemberi peringatan kalau-kalau mereka telah keluar dari jalur ordinantnya, dialah seorang ibu.

Salam

By Umaee

Strategi Bangkit dari Keterpurukan

Menjadi hebat itu, harus bisa membayangkan vision itu menjadi suatu yang benar-benar nyata, atau sebesar-besar kenyataan melebihi kenyataan yang real disetiap hari.

Mereka yang setia menjaga garis, jalan, arah ke visi serta mencintainya yang akan bisa mewujudkan visi itu. Oleh karena itu dibutuhkan konteplasi setara tingkat dewa, orang salih atau petapa.

Hanya mereka yang menguasai kehidupannya secara utuh tanpa cacat, maka dialah yang akan mendulang sukses.

Yang mewarnai kehidupan manusia itu ada bermacam-macam, senang, sedih, kecewa, bangga, iri, dengki, pasrah, malas. Mereka yang bisa mengambil strategi yang tepatlah yang bisa mengendalikan seluruh keutuhan dirinya.

Jalan hidup telah dibentangkan, tinggal mereka yg pandai-pandai dan bekerja keras lah yang akan bisa melewati dengan selamat dan memperoleh suatu nilai tambah lebih dari hidupnya sekarang ini.

Barang siapa yang lebih baik hari ini dibanding hari kemarin maka ia lah yang menjadi orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia lah orang-orang yang merugi.

Saya meski menghembuskan nafas dengan berat, karena apa yang saya tampakan akan dilihat oleh orang-orang terdekatku, olehnya itu sudah semestinya engkau harus menjadi contoh yang baik bagi mereka semua.

Seorang leader kuat harus bisa melihat berbagai sumber daya, untuk digunakan sewaktu-waktu, sebagai penunjang, mempermudah, efektif dan efisien menuju visi yang telah ditentukan.

Buton Bagian Negeri Nabi Sulaiman?

Ilustrasi

Ilustrasi

Teringat dengan pesan kakek buyutku, sesaat kemudian pikiran melayang menelusuri lorong-lorong memori tentang buyut yang sudah lama meninggal, lebih jauh lagi otak menelusuri lorong melewati ruang dan waktu ke masa silam.

Ada suatu rahasia yang erat kaitannya dengan keberadaan negeri Buton hingga sekarang, di dalam keraton Buton, persisnya di tempat sujud imam masjid terdapat lubang (pusena tana) yang terhubung langsung dengan Ka’bah di arab sana. Pertanyaanya adalah ada hubungan apa dimasa lalu pada kedua situs ini?

Baru-baru ini ditemukan melalui rangkaian logika alquran dan riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya tentang borobudur yang sejatinya adalah peninggalan nabi sulaiman, baru kemudian kebudayaan hindu-budha tiba, kemudian diyakini sebagai sisa kebudayaan mereka, lengkapnya bisa dibaca disini.

Dalam penjelasannya, dalam bentuk borobudur terdapat angka 19 yang menceritakan suatu tempat dimana nabi sulaiman hidup. Juga kaitannya nama-nama tempat seperti Sleman dengan dengan nama Sulaiman, situs-situs candi misalnya ratu Boko atau ratu Balqis dst. Sesuai yang termatub dalam kita suci agama islam. Banyak ayat-ayat alquran yang menegasikan keterkaitan antara satu fakta dengan fakta yang lain. Fakta lain diceritakan, bahwa ada suatu tempat dimana semua gedung2 dibangun dengan emas yang menyala-nyala, tempat itu adalah kepingan sorga yang berada di dunia.

Dalam penjelasaanya kiyai itu, menyebutkan pada awalnya kepulauan indonesia adalah satu, oleh banyak ilmuan modern mengafirmasi bahwa pada riwayat terbentuknya bumi, pernah ada suatu masa dimana seluruh dunia menjadi beberapa daratan yang laus, banyak peradaban muncul, kemudiaan datanglah masa es semua peradaban hilang tertutup es. Dan saat es mencair daratan besar tadi sudah ditutupi oleh lautan, selanjutnya daratan luas tadi berpisah-pisah menjadi deretan-deretan kepulawan. Keadaan ini juga telah menghilangkan peradaban yang sangat maju pada waktu itu. Ada yang menyebutnya Kebudayaan Atlantis.

Kalau benar dugaan sementara ini, maka benar bahwa dulu kepulauwan Indonesia pernah menjadi satu, juga terdapat nabi besar umat Islam, nabi Sulaiman yang lama tinggal disini. Laiknya nabi yang di utus oleh Allah, selalu ada kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Sebagain banyak termaktub dalam kita al quran tapi sebagian lagi tertinggal pada sisa-sisa peradaban yang ditinggalkannya. Di buton sedikit memberi hubungan itu.

Kalau melihat posisi Buton utamanya pusena tanah yang secara spiritualis, juga secara energi mempunyai energi yang sama dengan dengan energi yang terpancar oleh ka’bah menjulang tinggi ke atas menembus hingga langit ke tujuh. Begitu pun dengan di pusena tana di Buton juga punya energi yang menjulang tinggi menembus langit ke tujuh.

Dikalangan masyarakat Buton, terdapat beberapa orang, kalau tidak mau dibilang sedikit, bahwa mereka mempunyai mandat untuk menyimpan pusaka-pusaka sakti (katuko naga, tri sula, dll) peniggalan buyut-buyut mereka yang tecatat dengan baik dari generasi ke generasi bahkan sebelum kebudayaan hindu-budha ada. walaupun pada generasi-generasi tertentu sering luput dicatat.

Jadi, apakah benar pusena tana di Buton adalah sisa peninggalan Nabi Sulaeman dengan kebudayaanya layaknya dugaan Borobudur sebagai peniggalan nabi Sulaiman baru-baru ini? Penelitian berdasarkan kaidah-kaidah ilmiad yang dalam dan butuh kesabaran lah yang dapat membuktikannya.

Salam

by Umaee

Penulis Hebat, Sebuah Bayangan Pikiran

Ilustrasi

Ilustrasi

Saya ini begitu kecil dibanding kerja-kerja nyata para penulis buku yang bepuluh-puluh ribu halaman itu. Mereka telah nyata mendedikasikan waktunya yang cukup lama, untuk menelusuri sumber-sumber literatur disemua sisi yang sempat ada sumber pengetahuan disitu khususnya tekait dengan materi apa yang hendak dituliskannya.

Otaknya diajak untuk berpikir kritis, dan menampung, pengetahuan-pengetahuan baru, sampai-sampai sel-sel saraf beregenerasi menjadi buliran nadi yang secara gradual menebal dan menjadi suatu wadah ampuh untuk memudahkan menerima setiap ilmu yang dibaca dan ditelitinya.

Perjuangan mencari sumber buat kepenulisan, begitu berliku, Continue reading