Benarkah Identitas Ke-Buton-an Telah Hilang?

Serpihan Kapal-Kapal Pedagang Buton

Serpihan Kapal-Kapal Pedagang Buton (bhoti)

Petite History keluarga nelayan Buton

Tadi malam saya mencoba mencari-cari petuah atau falsafah -buton- nenek moyang yang pernah ada, atau cerita-cerita pekerjaan, tantangan saat mencari sebuah nafkah hidup di era kolonialisme belanda. Saya melakukan itu adalah upaya saya menemukan kembali kepingan sejarah masa silam yang pernah buyut2ku kerjakan. Bukankah kita tidak boleh melupakan sejarahnya, bisa dibilang cerita kecil dari gelombang peradaban. Sebuah upaya survive ditengah hantaman tantangan hidup yang serba sulit.

Sebagai orang yang hidup di daerah kepulauan, letaknya dianak kaki pulau sulawesi, Buton tentu saja, merupakan suatu keharusan penduduk mayoritas mengantungkan hidupnya pada lautan. Mereka bersahabat, berteman dengan lautan dan akrab serta jeli melihat perubahan alam.

Tentu saja tidak semua hal bisa didapatkan dilautan, misalkan saja sandang, atau barang tekstil, mebel, keramik dsb. Karena itu mengharuskan orang-orang yang hidup dipulau-pulau itu harus melintasi pulau, dan melewati samudra yang luas. Buyutku, merupakan salah satu pedagang, ia menjadi distributor antara pulau-pulau, sekaligus menjual barang-barang eceran ke kampung-kampung ke pulau-pulau kecil disudut-sudut sulawesi di hamparan pulau wakatobi –singkatan, wangi-wangi, kaledhupa, tomia dan bhinongko– .

Dalam perjalanannya itu, mereka menggunakan sampan biasa disebut “bhoti”, sebuah sampat berukuran sedang, yang bisa menampung penumpang kurang dari 10 orang. Pada waktu itu, mereka berlayar hanya menggunakan layar, dan bantuan kejelian melihat, perubahan angin, iklim, cuaca dan sigap melewati celah-celah gelombang dan badai bila menerpa. Kadang-kadang kabut mulai menyelimuti mereka, melihat keadaan seperti itu, mereka tidak mencari pulau kecil untuk berteduk, tidak juga pasrah dengan keadaan, tidak juga surut kebelakang tapi maju menantang badai, segera menurunkan layar. Dan menantang gelombang besar, dengan cara membelahnya dengan kapal kecil mereka.

Bagi mereka “Sekali layar terkembang pantang biduk surut kebelakang” itulah filosofi terkebal yang selalu dipercara teguh oleh orang-orang pulau yang tinggal di sulawesi. Mereka ini dalam pelayaran dahulu dikenal dengan istilah BBM (Buton Bugis Makassar). Mungkin karena tangguhnya itu, dikalangan mereka perseloroh “Lebih baik badai besar yang datang dari pada lautan yang tenang tanpa angin” karena itu, membuat mereka tidak bisa pergi kemana-mana.

Buyutku, sebagai seorang pedagang, ia membeli barang-barang dagangan ke singapura, jawa, sumatera dan kalimantan. Oleh karena itu, ia harus menyeberangi lautan lepas dengan segala tantangannya. Untuk kesana, mereka harus menghabiskan waktu sebulan di lautan dan ransum yang sangat terbatas, tak jarang mereka harus pintar-pintar menghemat makan.

Selain tantangan ganasnya samudra, mereka juga menemukan tantangan gerombolan perompak, yang bisa datang kapan saja, menjarah semua isi kapal. Tak jarang kapal-kapal pedagang yang berhasil dijarah. Mereka (perompak:red) tenggelamkan dan orang-orangnya dibunuh dengan sadis.

Dengan demikian bahwa masyarakat ini dibentuk, digembleng oleh lautan, punya kebudayaan sendiri, filosofi sendiri yang dibangun dari fondasi kebersamaan penduduknya, dengan falsafah “Pobhinci-bhinciki kuli”.

Ada kisah menarik buyutku ketika berhadapan dengan perompak ini, ketika itu ia, lagi pergi memancing ikan tidak jauh dari pulau buton, setelah ia mendapatkan ikan hasil tangkapannya, ketika itu jam 03.00 AM, pagi. Malam masih menampakkan kegelapannya. Tiba-tiba ada gerombolan perompak, waktu itu ada tiga orang, masing-masing menggunakan topeng menggunakan perahu agak besar dibanding yang digunakan oleh buyutku itu.

Dalam penyamaran, dan juga keadaan samar-samar seperti itu, mereka datang. Awalnya buyutku menganggapnya dengan positif, tapi sesaat kemudian ia dengan jeli melihat itikad yang tidak baik dari gerombolan perompak ini. Disuruhnya lah buyutku untuk menghitung jumlah ikan yang akan dijual.
Manga gagariakamo adhi ikane yitu

Dari cerita-cerita yang berkembang waktu itu, sudah banyak korban yang dilakukan oleh perompak itu kepada nelayan-nelayan setempat, modusnya, dengan menyuruh “si nelayan” untuk menghitung jumlah ikan. Dalam keadaan menunduk menghitung itulah perompak melakukan aksi brutalnya yaitu dengan sigap mengayunkan “bhadi” – istilah buton untuk badik-parang kecil – ke kepala “si nelayan” sampai kepalanya “terpotong”. Setelah mati, mereka lalu menjarah ikan beserta sampan nelayan itu

Menginterpretasi firasat buruk itu, sesaat kemudian buyutku waspada dengan terus memegang bhadinya dan menyuruh para perompak itu untuk menghitungnya sendiri.
Gagarimea yingkomiu adhi” buyutku menyuruh.

“Bholimo, gagarimea yingkita” tetap perompak itu ingin menyuruh.

Mengalami itu, bukan karena takut tapi karena keadaan tidak memungkinkan untuk melawan,  sesaat kemudian buyutku menggunakan ilmu “Sawurondo” – ilmu menghillang yg diwariskan dari secara turun-menurut dari buyutnya juga- dan menganti keberadaanya dengan “tangkulea” –istilah buton untuk bonkol jagung-, lalu ia (buyukku;red) mengayuh dengan cepat lari dan bersembunyi dikegelapan malam, pulang untuk menuju ketepi pantai.

Sementara itu para perompak tadi dengan keheranan melihat nelayan tadi menjadi tangkulea, akhirnya mereka cuman berputar-putar mengelilingi tangkulea itu.

Ditepi pantai, sementara mengangkat kapalnya untuk berlabu di pantai. Datangnya para perompak itu, berlaga seolah-olah tanpa apa-apa, topengnya pun telah dilepaskannya.

sarongia yinda kumatau yingkomiu” –kalian kira saya tidak tahu kalian- buyurku bergidik lalu menghardik.

Sie” -ini- ia menunjukan badik diangkatnya tinggi-tinggi, mengancam dan menantang para perompak itu.

umacapu-macapuaka, yincisiimo mopogauna” –kalau kalian beranri macam-macam, badik ini yang akan bicara- sekali lagi menghardik.

Lalu para perompakpun itu pun, pergi sambil tertunduk malu. Yang tiada lain mereka itu adalah orang dipulau-pulau seberang tidak jauh dari pulau buton, yg juga saling kenal dengan buyutku satu sama lain. Keberanian mempertahankan apa yang menjadi hak-haknya lah yang menjadikan ia pantang akan ancaman walaupun meregang nyawa karena itu.

Generasi baru Buton

Beda zaman, beda juga tantangannya, generasi sekarang ini telah terlalu terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan atau hedonisme modernisasi. Serba mudahnya mendapati apa yang di  inginkan, semua hal sudah serba ada, berpayah-payah tidak lagi dilakukan, pertua-petua telah banyak dilupakan, cerita-cerita masa lalu sudah dinggapnya tidak lagi berarti,  menyebabkan generasi ini mengalami krisis identitas kebutonan. Bagi saya, bukanya tidak mau menerima perubahan, nilai-nilai dari luar, tetapi filosofi, nilai-nilai buton harus menjadi penilai akan nilai-nilai luar yang masuk dengan begitu, identitas buton akan selalu menjadi raja di tanahnya sendiri.

Ditengah krisis identitas kebutonan itu, banyak generasinya akhirnya mencari diluar entitasnya, hari ini muncullah generasi dengan bentuk baru hasil “Jiplakan” dari entitas orang diluar buton itu sendiri. Munculnya pun bermacam-macam, ada yang berwujud etnis, agama, sekte, aliran pemikrian dsb. Masing-masing mereka menjanjikan kemakmuran buat negeri buton tapi yang terjadi adalah pemaksaan disatu pihak dan pembangkangan dipihak lain. Bagi saya, orang berdebat “agama or keyakinan” itu tiada lain hanyalah upaya mencari ketenagan batin dari banyak pilihan yg ada. menyeret-nyeret orang lain agar empati padanya. Mereka lupa bahwa membangun masyarakat berperadaban tinggi degan segera adalah suatu keniscayaan yg tidak bisa ditawar.

Pola ini terus berlanjut tak jarang, antara sesama generasi buton saling mengancam, tak jarang terlontar saling membinasakan satu dengan yang lainnya, kacaunya, itu berlanjut berlarut-larut tiada akhir. Saya berpikir, apakah keadaan begini akan bisa mewujudkan kemakmuran untuk semua sebagaimana cita-cita mereka itu? Saya kira sangat jauh bahkan kecil kemungkinannya.

Bagiku Buton itu dibentuk, dari kegelisahan para founding fathernya dari pertikaian-pertikaian atas nama politik kekuasaan negeri-negeri besar di seberang samudera sana. Mereka ingin menciptakan negeri yang punya identitas sendiri, tidak menjadi otoriter, suasana egaliter dikedepankan antara pengurus negeri dengan rakyatnya, sehingga kemakmuran dan kesejahteraan bisa diwujudkan.

Kenapa juga generasi kita tidak mencontoh generasi-generasi awal buton diri dulu, membebaskan diri dari sejarah bunuh-bunuhan, memaksanan alirannya sendiri yang benar, keupaya membangun kemajuan disegala lini bidang keilmuan, membangun komunitas diskusi, kreatif dsb. Tidak seperti sekarang ini masih di cap sebagai salahs satu “Daerah Tertinggal”. Tapi problem besarnya adalah siapa yang akan meneruskan cita-cita besar founding father kita ini?

Ah. Mungkin ini hanya celoteh yang tidak ada artinya…

Note: Cerita kecil di atas adalah hasil penuturan langsung buyutku ke ibuku langsung waktu masih tinggal sama-sama (ia yang bertanggungjawab mengurus hari tua buyutku), yang ia sampaikan kembali kepada anak-anaknya.

Yogyakarta, 1 Juli 2013

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s