Permainan Wayang Para Dalang

Ilustrasi

Ilustrasi

Saya bukan ahli sosiologi poiltik, saya juga tidak pernah belajar kominakasi publik atau politik yang kaitannya dengan manajemen isu secara formal, tapi dari apa yang saya amati dimedia massa, bisa nampak jelas bahwa kadang-kadang isu itu perlu dihembuskan untuk menconter, membuat kegaduhan, dan menutupi wacana yang sedang berkembang.

Jangan kira apa yang kita lihat dikeseharian kita adalah wejangan yang begitu saja nampak, tidak, saya pikir, itu semua adalah suatu grand design yang telah dirancang dengan sedemikian canggih untuk mengarahkan massa, penonton, agar berpikir kearah yang dimaui oleh sang aktor dibelakang layar. Keadaan ini berlaku terutama erat kaitannya dengan hingar- bingar praktek kekuasaan. Akan tetapi tidak untuk suatu berita yang tidak mungkin dimanipulasi oleh manusia seperti, kecelakan transportasi baik itu darat, laut dan udarah. Berita-berita kriminal oleh sekelompok pereman atau berita bencana yang sedang melanda disalah satu daerah di negara ini.

Pointnya adalah perebutan kekuasaan, dengan variabel-variabel pengikutnya bisa kapital atau posisi strategis yang sedang dan akan dikejar oleh seseorang atau kelompok politik. Ada beberapa hal yang saya catat disini dari sisi aktor yang berada pada front line pem blow up atau yang lagi dikenal terkenal sekarang dengan informasi A1 Pertama, media, disini bukan berarti media telah terkooptiasi oleh penguasa (aktor dibelakang layar) misalnya tapi aktor ini memanfaatkan sifat media yang lebih memproduksi berita aktual dan bed news. Misalkan disaat gonjang-ganjing politik pada suatu partai lagi masif diberitakan tidak berselang lama terjadi gejolak yang melibatkan aparat atas dasar mengamankan negara dari konflik sosial oleh gerakan-gerakan separatis atau kemerdekaan atau gejakan teroris.

Kedua, Jubir, ketika satu pemberitaan yang begitu gencar dilayangkan pada penguasa oleh media-media masa, Jubir seketika itu, menjelaskan bahwa apa yang diberitakan media massa adalah sepihak. Misalkan, banyak media telah memberitakan bahwa kinerja kepala negara, pemerintahan buruk atau tidak mengurusi masyarakat, disaat bersamaan jubir mengatakan atau memberi pengakuan, atau beralibi bahwa media adalah suatu bentuk strukturisasi persepsi atau opini publik, oleh karena sifatnya yang persepsi, dengan adanya dia didekat kekuasaan otomatis yang secara langsung atau yang paling bisa dipercaya adalah persepssi yang ia bangun dari argumentasi-argumentasi positif tentang pemerintahan misalnya. Yang saya mau katakan adalah persepsi dia yang dekat kekuasaan lebih bisa dipercaya ketimbang persepsi publik yang hanya didapat dari pemberitaan-pemberitaan yang tidak berimbang.

Ketiga, pengamat, sadar atau tidak dalam memberikan statement pengamat telah digiring, tidak sadar telah diperalat untuk memperluas eskalasi masalah yang ia tanggapi. Misalnya ketika ada suatu kebijakan ditanggapi oleh pengamat, kebanyakan persepsi masyarakat terutama yang awam akan tergiring, atau sepakat dengan pengamat tadi. Perlahan-lahan menyebar akhirnya jadi isu yang diperbincangkan bersama.

Pada akhirnya saya hanya mau mengatakan bahwa pemberitaan atau isu yang berkembang luas di masyarakat tidak terlepas baik secara langsung atau tidak langsung dari aktor di balik layar. Atau bisa juga kita adalah penonton dari wayang-wayang dengan lakon sesuai dengan keinginan sang Dalang. Menyadari ini penting agar kita bisa dengan bijak mengambil posisi apa yang paling baik dilakukan dan tidak juga menggangu energi dan waktu kita untuk sebuah passion, perjuangkan yang sementara ini dilakukan berbeda jauh dari isu tersebut.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s