Solusi Kesehatan Pada Perubahan Iklim

“Bahaya yang ditimbulkan oleh perang bagi seluruh umat manusia – dan bagi planet ini – paling tidak dapat disetarakan dengan krisis iklim dan global warming. Saya percaya bahwa dunia telah memasuki tahapan kritis dalam usahanya untuk menjalankan tanggung jawab dalam memeliharan lingkungan.” (Ban Ki-Moon-Sekjen PBB)

“Kita harus meninggalkan pola-pola pembangunan lama dan menggantikannya dengan pola pembangunan yang berkelanjutan. Jangan salahkan alam bila memberikan berbagai reaksi negatif kepada kita apabila kita tidak segera bertindak untuk mencegah kerusakan atmosfer, sehingga memperparah terjadinya perubahan iklim” (SBY-Presiden RI)

Berangkat dari pernyataan dua tokoh dunia diatas, memeperlihatkan bahwa perubahan iklim sudah menjadi isu dunia, yang menandakan kita tidak boleh lagi berpangku tangan atau berleha-leha untuk tidak ikut andil dalam gerakan melawan perubahan iklim. Secara sadar atau tidak perubahan iklim paling banyak disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri. Perubahan yang dahsyat terjadi setelah manusia mengganti perkakas-pekakas kerja yang semula menggunakan perkakas-perkakas tradisional beralih menjadi perkakas-perkakas moderen yaitu menggunakan mesin-mesin, yang terjadi saat awal revolusi Industri sampai sekarang ini. Tulisan ini akan menguraikan 1) Bagaimana terjadinya perubahan iklim, 2) Indikator-Idikator perubahan Iklim pada kesehatan, dan 3) Langkah-langkah praktis yang harus dilakukan masyarakat untuk meminimalisir perubahan iklim, utamanya kaitan dengan penyakit DBD, Malaria dan Diare.

Dampak Perubahan Iklim

Revolusi industri, meniscayakan dalam produksinya menggunakan bahan bakar fosil secara intenst, residual produk yang dihasilkannya secara tidak langsung merusak alam disaat bersamaan menghasilkan berbagai gas-gas yang mengakibatkan temperatur dunia meningkat. Gas-gas semacam CO2, CH4, N2O, HFC, PFC, SF6 akan dilepaskan di udara, dan akan terakumulasi pada atmosfir yang membentuk suatu lapisan yang dinamakan gas rumah kaca, temperatur panas terjadi bilamana cahaya matahari masuk ke bumi, memantul dan keluar kembali keluar angksa, karena adanya gas rumah kaca tadi, menghalagi sinar matahari untuk keluar, akibatnya panas sinar matahari tadi terpantul kembali ke bumi.

Kenaikan Temperatur

Gambar perubahan Iklim dari tahun 1860 sampai 2000

Dari gambar terlihat jelas perubahan iklim yang sangat radikal, pada tahun 1860 temperatur rata 13,5oC menjadi 14,2oC pada tahun 2000. Dari kondisi ini bila dibiarkan terus menerus akan terjadi dampak yang luas pada kelangsungan hidup manusia.  Pertama, penurunan hasil panen dibanyak daerah, kondisi iklim yang tidak menentu akan berpengaruh pada masa bercocok tanan dan panen, seperti Pranata Mangsa di Jawa dan Polantara di Sulawesi Selatan. [1] Kedua, Penurunan ketersediaan air bersih di banyak daerah, mencainya es akan meningkatkan permukaan air laut dan akan meningkatkan abrasi, sampai hilangnya pulau di pesisir pantai. Ketiga, Terancam rusaknya ekosistem, mengakibatkan kepunahan banyak spesies mahluk hidup terutama ekosistem terumbu karang. Dan Keempat, Intensitas Cuaca yang ekstrim akan mengakibatkan badai, kekeringan, banjir, kebakaran hutan dan gelompang panas, pada kurun waktu 1844-1960 kemarau panjang terjadi tiap 4 tahun, namun pada kurun waktu 1961-2006 kemarau panjang menjadi tiap 3 tahun. [2]

Mewabahnya Penyakit Menular

Banyak kondisi yang menyebabkan terganggunya kesehatan pada perubahan iklim, misalnya penaikan temperatur akan menghangatkan bumi, disaat yang sama, daerah-daerah yang biasanya bersuhu dingin berubah menjadi suhu hangat. Keadaan ini akan mempengaruhi pergerakan wabah penyakit menular yang biasanya berada pada daerah dataran rendah ke daerah yang berdataran tinggi. Seperti DBD (Demam Berdarah Dengue), Malaria dan Diare akibat curah hujan yang tinggi. Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas tiga penyakit yaitu DBD, Malaria dan Diare.

Berikut adalah gambar peta risiko DBD, Malaria dan Diare akibat perubahan iklim. [3]

DBD

DBD (Demam Berdarah Dengue)

Malaria

Malaria

Diare

Diare

Dari ketiga gambar diatas, bisa kita lihat, hampir semua penyakit menular tersebar merata diseluruh Indonesia, dibanding DBD, Malaria dan Diare lebih banyak angka kejadiannya, sebarannya pun tidak melulu di dataran rendah, dataran tinggipun seperti di papua, kalimantan, jawa n sumatra terlihat banyak terdapat endemis penyakit ini. Dari gambar Papua memperlihatkan angka kejadian yang tinggi untuk semua jenis penyakit menular, penyebab utamanya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan hidup bersih disamping permasalahan fasilitas pelayanan kesehatan yang masih minim.

Langkah-langkah praktis

Menghadapi kondisi resiko yang begitu tinggi pada ketiga penyakit DBD, Malaria, Diare, maka perlu dilakukan serangkaian tindakan yang diarahkan langsung pada masyarakat untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas lingkungan hidup dimana mereka berada.

1.  DBD (Demam Berdarah Dengue)

Mempraktekkan apa yang dinamakan 4 M Plus, yaitu Menguras wadah air seprti bak mandi, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung, penampungan air kulkas agar telur dan jentik nyamuk matik.  Menutup rapat semua wadah air agar nyamuk tidak dapat masuk dan bertelur. Mengubur atau memusnahkan semua barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti ban bekas, kaleng bekas, pecahan botol agar tidak menjadi sarang dan tempat bertelurnya nyamuk. Memantau semua wadah air yang dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Plus, jangan mengantung baju, hindari gigitan nyamuk dan menaburkan bubuk abate.

2. Malaria

  1. Reklamasi pesisir pantai (rawa, area terkenang), berguna untuk meminimalisir genangan air yang biasa menjadi tempat hidup nyamuk malaria.
  2. Pemasangang jaring/saringan nyamuk pada fentilasi pintu dan jendela, berguna untuk meminimalisir nyamuk yang masuk ke dalam rumah dengan begitu akan mengurangi resiko gigitan nyamuk malaria pada kita.

3. Diare

  1. Penggunaan air mendidih atau air terklorisasi, berguna untuk mematikan semua bakteri, dan menjamin air yang kita pakai untuk keperluan sehari-hari adalah air yang sehat.
  2. Sistem saluran air buang dan jamban yang lebih baik, sedapat mungkin dijauhkan dari sumber mata air, dengan begitu bakteri diare tidak mengkontaminasi air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari
  3. Ketersediaan air dari sumber mata air bersih atau sumur gali.

Salam

by Umaee

Tulisan ini dalam rangka menyemarakkan lomba Blog Oxfam, Yang mana Oxfam adalah “konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan”

Keterangan :

[1] Pranata Mangsa dan Polantara, adalah kearifan lokal berupa jadwal yang digunakan untuk menentukan masa tanam dan panen padi

[2] Data Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI

[3] Data Kementerian Kesehatan RI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s