stopcyberbullying

Candu Internet

stopcyberbullying

Internet itu ibarat candu bisa membuat orang senang namun dibalik kesenangan itu ada penyakit yang jika kita tidak tanggap maka kita akan merasa sakit sendiri

Boleh dikatakan internet sudah sangat susah dipisahkan bagi kehidupan modern, sebagian besar dari kita setiap kali bangun yang terpikirkan pertama kali adalah mencari gadget, komputer, tablet dll guna melihat apakah ada informasi terbaru mengenai pertemanan di media sosial, berita nasional, regional hingga mancanegara. Untuk mereka yang pacaran akan segera mengecek apakah ada pesan dari pacar, kalau belum, segeralah ia menulis chat, Broadcast Massage, mail, inbox, blogging dll, walaupun hanya untuk mengatakan say Hallo pada sang kekasih hati. Untuk yang jomblo hanya bisa melihat gambar-gambar calon gebetan yang berharap menjadi pujaan hati. Untuk orangtua, segeralah menelepon menggunakan webcam untuk melihat wajah anaknya yang tiggal didaerah yang jauh, walaupun semalam sudah melototi anaknya berjam-jam. Sementara untuk mahasiswa mulai kelabakan dan sesegerahlah ia mengumpulkan tugas melalui email ke dosen  persis pada saat deadline mentok, padahal sebelum-sebelumnya banyak waktu tapi dianggap masih lama.

Lain lagi dengan mahasiswa baru lulus, dengan segera mengecek email berharap ada satu surat balasan dari tempat melamar kerja yang sudah puluhan surat dikirimkan tapi ndag dibalas-balas. Untuk enterpreneur muda akan segera melihat email, broadcast message atau semacamnya apakah sudah ada kepastian dari pihak pemegang tender untuk segera menjalankan proyek supaya cepat-cepat kelar dan mendapatkan uang yang melimpah supaya cepat jadi miliarder. Belum lagi para kepala daerah, iseng-iseng gadgetnya kaget dan didapatinya ratusan mention, berisi pujian akan kinerja, tuntutan dari LSM-LSM, keluhan dari warganya, rayuan dari pengusaha agar mengoalkan perusahaanya memenangi tender dan ada juga orang tua menawarkan anaknya untuk dinikahi, dijadikan anak angkat dsb.

Pokoknya sangat banyak hal yang bisa dilakukan pada internet. Tetapi bagaikan pisau bermata dua tidak hanya banyak hal-hal positif bisa dilakukan tetapi juga ada hal-hal negatif yang sering dikenal cyberbullying. Banyak defenisi mengenai cyberbullying tapi bagiku cyberbullying adalah seperangkat interkoneksi yang terjalin di media online dimana terjadi satu pihak  melancarkan perilaku yang agresif secara berulang kepada pihak lain sehinga pihak lain tersebut merasa inferior dan tak bisa melawan balik.

Begitu berbahanya cyberbullying ini, sehingga sering kita temukan korban mengalami gangguan mental yang cukup serius, seperti stress, depresi, merasa tidak dihargai dan tidak jarang demi menyembuhkan keadaan ini mereka “korban” kepada psikolog. Pada kenyataanya kita sering tidak menyadari bahwa apa yang telah kita lakukan telah dikatekorikan sebagai cyberbullying. Beberapa peneliti telah mengkategoriakan cyberbullying dilihat dari perspektif dan pengalaman “pelaku” dan “korban”. Seperti penelitian Rainel dan Hoel (1997) mengungkapkan mengkategorikan cyberbullying dari sudut pandang “korban”, yaitu dikelompokkan menjadi beberapa tipe; (1) ancaman terhadap status profesi sepeti; meremehkan pendapat, menghina profesi. (2) ancama terhadap personalitas seperti; melecehkan nama, menghina, intimidasi, merendahkan karena usia.  (3) pengisolasioan seperti; isolasi terhadap kesempatan tertetnu, pengisolasioan secara sosial, tidak memberikan informasi tertentu.

Sementara dari perspektif dan pengalaman “pelaku” seperti pada penelitian Nancy dan Kirk (2007) mengungkapkan perilaku cyberbullying terjadi bila terdapat keadaan-keadaan tertetentu. Keadaan-keadaan tertentu ini adalah sebagai berikut;

(1)   Pelaku, segaja atau tidak kadangkala segala tindakan-tindakan dalam hal ini pesan-pesan yang kita sampaikan dengan berbagai media tersebut, yang kita sendiri menganggap itu biasa ternyata oleh orang lain dikategorikan sebagai cyberbullying.

(2)   Dukungan teman, berada pada suatu komunitas tertentu, tentu saja kita tidak bisa melepaskan diri dari adanya interaksi sesama teman, bila perilaku cyberbullying diatas kita lakukan lalu di afirmasi oleh teman, maka perilaku tersebut akan terus dilakukan tanpa merasa itu adalah pembullyan.

(3)   Budaya Lingkungan, pola sosialisai dalam suatu komunitas tidak terlepas dari budaya komunitas tersebut.

Dari kedua sudut pandang terhadap cyberbullying diatas, saya mencoba menawarkan beberapa solusi untuk meminimalisir praktek-praktek cyberbulling yang ada disekitar kita adalah pertama, sadar bahwa dengan kita memutuskan untuk berinternet ria, berarti kita telah tahu bahwa segala macam keadaan pasti akan kita terima termasuk prakteks cyberbulling dengan begitu kita lebih dulu membangun dinding proteksi terhadap dirisendiri. Kedua, sebelum memasuki suatu komunitas tertentu pelajari budaya lingkungan tersebut. Bisa jadi perilaku orang-orang yang ada didalamnya saling membulling satu sama lain sementara mereka tidak merasa demikian. Oleh karena itu penting untuk mengetahui dimana kita berada, budaya apa, nilai-nilai apa yang berlaku dan dijalankan dikomunitas tersebut dengan begitu kita tidak terjebak dalam perasaan sedang di bullying. Ketiga, Berteman dengan orang-orang yang memiliki kesamaan nilai dengan kita, berteman atas dasar saling melengkapi, berada disekeliling mereka kita bisa memperoleh kehangatan sebagai teman. Dengan begitu bila ada orang lain yang mencoba membullying, kita bisa meminta tolong, dan bersama-sama kita melawan pembullying tersebut. So

Berinternetlah dengan sehat karena banyak orang diluar sana ingin bersahabat denganmu begitupun dirimu ingin bersahabat dengan mereka

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s