RIP (Rest in Peace) My Grandpa

RIPBadai kehidupan telah kau lalui, gemuruh rumah tangga telah kau akhiri, perihnya kerja, jatuh bangun, banting tulang telah kau lakukan demi menghidupi orang-orang terkasihmu. Pekikan, tangisan bayi, silih berganti mengiang-ngiang di telingamu pun telah kau dengarkan, balita, remaja, dewasa, menikah dengan setia kau melihat n mendampinginya.

Anak-anakmu telah bertebaran diseantero negeri, Anak-anakmu telah berhasil kau sejahterakan mereka, Anak-anakmu telah berhasil kau nafkahi mereka, Anak-anakmu telah berhasil kau sekolahkan mereka.

Kini anak-anakmu telah besar, pun telah memiliki pekerjaan, pun telah memberikan cucu-cucu cantik, tampan dan mereka menghormatimu, menciumi tanganmu, meminta doa keselamatan ketika kami berkunjung ke rumah reokmu.

Setiap kali kubertemu denganmu, sorot mata itu tidak pernah kulupakan, sorot mata tajam melihat, anaknya, cucunya telah tumbuh besar datang bertamu kerumahnya setahun sekali seolah berbicara tak ingin melewatkan sedetik pun untuk memuaskan dahaga rindu yang selama ini hanya mendengar suaranya.

Tanganmu begitu kuat memegang tangan-tangan kami, seolah ingin berbicara beginilah tangan-tangan kasih sayang, tangan-tangan yang telah memberi orangtua kalian nafkah kehidupan, tangan-tangan yang kelak kalian lebih baik, ulet, giat daripadanya, tangan-tangan dengan ratusan bekas luka mengisyaratkan tangan yang tak pernah merasa sakit demi untuk memberi sesuap nasi, kesejahteraan untuk anak-anaknya.

Di genggaman tangan itu pula kau lantunkan doa, begitu khusuk, kau pejamkan matamu, begitupun hembusan nafasmu begitu pelan, seolah tak ingin setiap lantunan doa yang kau panjatkan satu hurufpun luput dari lafalan dalam hatimu, dengan begitu menghalangi di ijabahnya doamu oleh Allah. Genggaman tangan itu pula seolah menjadi media transfer energi positif kepada kami untuk menjadi manusia baik seharap doa-doa yang kau panjatkan.

Aku cucumu, terasa masih mengganjal dalam hati saat-saat melihat kau duduk dikelilingi keluarga besarmu, kau begitu sering diam, sesekali menjawab pertanyaan, senyummu pun tidak bebas, apalagi ketawa lepas seperti seorang dengan penuh kebahagiaan ketawa. Ada apa gerangan? Apakah itu memang karaktermu, ataukah ada hal yang menekan hatimu hingga ini menghalangimu untuk bebas mengekspresikan rasa bahagia itu.  Aku ingin tahu?

Tapi kini, sebelum kutemukan jawaban itu, kau telah lebih dulu meninggalkan kami dengan berjuta tanya yang terpendam dalam hati ini. Tak satupun pesan moral kudapatkan dari keluar dari bibirmu, pesan moral yang kau dapatkan dalam mengarungi pahit getir hidupmu yang kau ingin kami melakukannya, pesan yang kau dapat ketika kau tersungkur, jatuh n kau bangkit n melewatinya. Ataukah saya terlalu banyak berharap sesuatu yang takmungkin kudapat. Pernahkah kau bangga dengan keberadaan kami?

Aku cucumu, sudah tidak bisa berbuat apalagi untuk membahagiakanmu dalam kehidupan nyata ini, melalui tulisan ini aku hanya ingin berikrar bahwa tak satupun ibadah wajib yang saya lakukan luput dari mengingatmu, memanjatkan doa untukmu, doa ditermanya amalmu, doa dilapangkan kuburmu, n doa supaya kita berkumpul lagi dihari kemudian.

Innalillahi wainnailaih rooji’un, telah berpulang kerahmatullah kakek tercinta, sambali-wolio, pukul sekitar 07.58-08.12, informasi ini saya dapat melalui via telpon oleh ibu saya.

Salam

By Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s