books

Menemukan Titik Singgung Budaya Lewat Buku

Buku adalah Jendela Dunia, di dalam buku banyak terdapat nash-nash Ilmu pengetahuan yang diawetkan di dalamnya. Ilmu pengetahuan itu akan abadi selama buku tersebut tak megnalami kerusakan, atau selalu dijaga kualitas bentuknya. Buku juga lebih tua dari umur manusia tertua yang pernah hidup dipermukaan bumi, bagaimana tidak, Di dalam buku tecetak, berbicara dengan rapi dan diam tentang masa lalu, pada saat bumi diciptakan, perihal masyarakat pra sejarah, arkheik, klasik sampai dengan masyarakat modern.

Di buku juga kita akan menyaksikan gagasan-gagasan besar lahir dianut masyarakatnya, dikritik dengan gagasan-gagasan baru, mengubur gagasan-gagasan lama, menghasilkan gagasan yang sangat jauh berbeda, atau menghasilkan sintesis gagasan-gagasan lama dan gagasan-gagasan baru tadi. dan masing-masing gagasan itu punya pemikir, filosof, nabi sendiri-sendiri.

Gagasan-gagasan itu berkembang seiring dengan keinginan manusia ingin melihat secara utuh hakikat diri, dan masyarakat. Baik itu menyangkut pergulatan memahami diri maupun memahami dan mengeti hakikat diri-nya ditengah-tentah masyarakat. Karena itu, tidak jarang manusia saling bunuh, saling altruis, resiprokal kita temukan sepanjang proses itu. salah satu gagasan yang sangat kuat mencekap dunia sekarang ini adalah globalisasi dengan hingar bingar modernitas di dalam-nya

Globalisme, modernitas yang kita alami sekarang ini telah melahirkan sikap pragmatis, hedonis, idealis. Menyebar keseluruh seantero dunia, sampai-sampai merubah tatatan sosial masyarakat dimana dia bersinkretisme, berdialektik, akulturisasi hingga berasimilasi. Sebernarnya tidak ada yang salah dengan medernitas sejauh tidak merusak tatanan sosial yang telah baik yang sudah ada, hidup, tumbuh mekar dimasyarakat.

Tapi das solen, modernitas hadir tidak saja menawarkan kenikmatan baru,  juga modernitas hadir dan cepat diadopsi oleh masyarakat karena rapunya pemahaman masyarakat akan identitas masyarakat dan bangsanya sendiri. Belum lagi modernitas selalu mempengaruhi tatanan masyarakat lama dengan menggunakan cara-cara destruktif dan merusak. Dan terus-menerus berlangsung lama hingga kita yang lahir pada saat proses itu sedang berlangsung, kita yang lahir bukan pada titik persinggungan awal. Akan dengan mudah lupa membedakan mana kebudayaan asli bangsa kita sendiri mana kebudayaan luar.

Perihal kebudayaan baik dan mana kebudayaan yang tidak baik memang selalu menghadirkan perdebatan, diskursus yang tak henti-hentinya. Hanya saja saya percaya genealogi kebudayaan kita itu telah ada dan meresap kedalam tulang kita, gen kita yang dibentuk dari ratusan abad yang lalu. Tapi karena ketidak tahuan kita tesebut menyebabkan kita mengalami disorientasi melihat kondisi yang ada. Untuk mengetahuinya kita cukup berkontemplasi sejenak memikirkan hakikat kehidupan sekeliling kita. Dengan begitu kita akan bisa membedakan dan mengetahui siapa diri kita, lingkungan sosial kita berada ini sebenarnya.

Satu paragraf di atas menjelaskan memahami masyarakat dengan bertitik pangkal pada dirikita sendiri. Cara lain yaitu dengan meneliti buku-buku yang menjelaskan kaitan-kaitan antara budaya satu dengan budaya lain. Dalam pengembaraan saya sejauh ini. Kita telah lama dilenakkan oleh modernitas, akselerasi kebudayaan lain yang merongrong kebudayaan kita sebagai jati diri bangsa.

Ekses dari akselerasi itu, kita kini telah kehilangnya budaya gotongroyong diganti dengan individualisme, musyawara mufakat diganti dengan suara terbanyak, religiusitas diganti dengan materialisme. Oleh karena itu diperlukan genereasi-generasi yang paham betul kebudayaan-nya sendiri kemudian mengasimilasi kebudayaan baru dalam lingkup besar kebudayaan sendiri. Setelah itu mewujudkan morenitas yang telah mengandung cita rasa kebudayaan kita sendiri.

Pengalaman saya, kini langkah-langkah itu telah berproses, martir-martir itu telah lahir dan berbuat. Walaupun masih skala kecil mereka kini telah berbuat, karena saya yakin berbuat sekecil apapun itu pastik kelak akan membuahkan hasil yang besar seperti harapan kita mengembalikan identitas budaya kita sejajar dengan budaya-budaya lain di luar sana. Langkah-langkah kecil itu adalah sekolah pasar tradisional, sekolah permakultur (bertani), seklah buruh, sekolah agraria, sekolah koperasi dan credit union.

Secara garis besar langkah-langkah kecil itu bertujuan memajukan masyarakat kita secara bersama-sama (kolektivisme), bukan individualis seperti era globalisasi sekarang ini.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s