Bukan Mimpi Biasa

Entah dari mana datangnya, mimpi seperti yang ku alami tadi pagi. Begitu bermakna bagi diriku, Mimpi itu bercerita tentang, kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang selama ini kulakukan. Bakti-bakti sosial ditempat-tempat yang pernah ku kunjungi. Namun satu tempat yang paling nyata tergambar dari mimpiku itu adalah bakti sosial di kampus, dengan bekerja sama dengan kantor pusat.

Disitu saya ditunjuk menjadi koordinator untuk menyukseskan Dies Natalis Kampus, menjalankan tugas saya, saya dibantu oleh teman-teman dari kampus yang sama, teman-teman lama, dan staf tata usaha kampus. Proses melayani pun dilakukan, berbagai karakter, latar belakang pasien ikut menjadi partisipan. Ada akademisi, staf administrasi, masyarakat umum biasa, juga mantan terorisme.

Dalam ingatan saya, terekam keluh kesah dari para kawan-kawan saya tentang peran koordinator yg saya lakukan. Mereka berkilah bahwa dalam melakukan baksos sosial, saya dalam hal ini terlalu santai dan membiarkan mereka bekerja sendiri-sendiri. Dalam benak mereka tidak ada tanggung jawab sebagai volunter, bahwa sama2 melakukan pelayanan obat kepada pasien2.

Dalam penjelasan saya mengapa terlihat lebih santai dari mereka adalah Peran yang saya lakukan dalam tiap kali baksos adalah mengkoordinasikan, memastikan perintah dari ketua pembina berjalan  di lapangan. Perintahnya berupa, mengatur kedisiplinan pasien2 agar tidak semeraut. Meyelesaikan persoalan-persoalan krisis yang dihadapi oleh teman2 lapangan, utamanya menyangkut persediaan logistik dan rencana pengadaan logistik yang sesuai sebagai hasil kalkulasi dari ekspektasi kemungkinan jumlah pasien yang akan datang selanjutnya.

Memang kawan-kawan saya tidak begitu saja menerima, puas dengan alasan-alasan saya. Tapi terlihat ada kemasukakalan dari penjelasan itu, sehingga penjelasan itu sedikit mengambil porsi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.

Hal lain, ketika dikritisi oleh staf tata usaha kampus yang mempunyai tanggungjawab memastikan bagungan, dan pengelolaan administrasi (buku daftar hadir, laporan hasil kegiatan) tidak dirusaki dan berjalan dengan baik. Tidak semeraut seperti yang ia ketemukan pada saat kami melakukan, proses pelayanan pasien.

Jawaban saya pada saat itu, kami dalam melakukan baksos ini adalah insidental, artinya kami bekerja hanya jika dipanggil atau diundang oleh pengelola, pembina kampus.  Karena itu, pekerjaan kami hanya melakukan fungsi pelayanan, sementara administrasi tidak kami lakukan, bukan tidak kami lakukan, tapi kami melakukan hanya berdasarkan format administrasi yang tersedia pada saat itu saja. Sementara memberi penjelasan itu, tidak hanya saya dan pengelola tata usaha tersebut juga terdapat, mahasiswa farmasi yang berasal dari kampus ini sedari awalnya. Menyangkal pernyataan staf tata usaha yang mengatakan bahwa antibiotik tertentu mempunyai kerja spektrum luas. Dan saya yang tidak tahu hanya mengiakan saja. Dalam sangkahannya tertawa kecil seolah menyejek karena penyaraan itu salah, benarnya adalah antibiotik tertentu itu berspektrum sempit. Saya dan staf tata usaha ini merasa sama-sama salah. Sementara menilai diri sendiri adalah yang paling tergoncang batin, paling bersalah karena cuman manut-manut, percaya begitu saja tanpa membantah. Mungkin ini pula superioritas atas Inferioritas berbicara, komunikasi dengan orang yang tidak tahu banyak tentang masalah yang dibicarakan.

Saya yakin karena ketertekanan, merasa bersalah itu lah, menyebabkan saya masih ingat peristiwa itu pada saat bangun. Menyikapi peristiwa ini, ada beberapa catatan yang juga memberi pelajaran pada saya untuk mengurangi bahkan meniadakan kesalahan-kesalahan yang sama di atas dikesempatan lain

Pertama, diperlukan sikap mental tegas, tegar dalam menghadapi kritis dari bawahan, sikap ini jangan sampai membimbangkan suasana confident dalam diri. Mengontrol, mengatur, dan membimbing, serta tegas dalam mengclearkan persoalan adalah cermin dari pribadi leader yang baik.

Kedua, kegiatan apapun itu, mendadak ataukah seterusnya, terkait masalah administrasi harus diperhatikan, disempurnakan bila masih semeraut, semuanya mengarah pada tujuan efektif dan efisien, transparan, akuntabel. Dan memudahkan pihak diluar organisasi untuk melihat dan mencek laparan tersebut sewaktu-waktu.

Ketiga, dalam komunikasi apapun, atasan -bawahan, superioritas -inferioritas, borjuis – proletariat harus berada pada derajat yang sama tentang masalah yang diperbincangkan. Setidaknya tahu sedikit tentang masalah itu, dan tidak asal mengiakan suatu masalah yang tidak diketahui secara pasti. Untuk menjadi pelajaran selanjutnya adalah apapun pekerjaannya harus menguasai persoalan yang menjadi tanggung jawab utama kita. Apakah itu masalah teori, subtansi persoalan, masalah administrasi atau manajemen, dan masalah leadeship.

Setiap orang pasti tidak mau terus berada pada pihak yang inferior kan? Pertanyaan ini lah yang bisa dijadikan dorongan, energi baru untuk terus berpacu menjadi, mendekati sempurna dalam setiap pekerjaan yang kita geluti. Pihak inferior itu pun seringkali menjadi sasaran empuk, ejekan orang-orang walaupun bukan kompetensinya atau mereka yang cuman numpang saja, bisa melakukan hal itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s