reality

Belajar, Berkarya Memahami Realitas

Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang. Adagium ini mungkin sudah klise kita dengar tapi pernahkan kita merenungkan, sekaligus merefleksikan pepatah itu kepada diri kita? Mungkin pertanyaan ini sudah bukan lagi hal yang sulit bila dijawab oleh mereka yang telah menghasilkan sesuatu bagi kehidupan, terutama kehidupan masyarakat  dimana dia berada, atau menekuni suatu bidang keilmuan. Pada puncaknya kamu akan memperoleh predikat Agung, Luhur dan Suci dimata Tuhan, Masyarakat, dan Tanah Air mu. Lalu bagaimana dengan yang belum?

Banyak cara untuk bisa dikenang, bisa dengan berperilaku baik di masyarakat, atau membuat suatu kegaduhan sampai predikat-predikat jahat, baik dan pahlawan kau emban. Tapi pada tulisan kali ini saya tidak hanya ingin berbicara umum tetapi juta terkhusus menyangkut perjalanan diri seorang manusia. Kalau kita merefleksikan diri kita hingga sampai pada saat sekarang ini. Akan kita temukan suatu arah, jalan yang tidak lurus, linear tapi cenderung berkelok-kelok. Jatuh-bangun, tersungkur berdiri. Dengan energi, waktu dan materi yang tidak sedikit dikorbankan. Jadi apakah kita ingin energi, waktu dan materi yang kita korbankan itu tidak menghasilkan apa-apa? Pasti tidak ada yang ingin demikian.

Seperti apakah dirimu kelak  adalah point penting bagi kita dalam menapaki kehidupan. Kadangkala kita buntu, menghadapi pertanyaan demikian. Tapi untuk membantu menjawab hal tersebut. paling baik adalah mencari mental model, tokok panutan, atau idola. Yang dengan segenap daya pesonanya ia mampu menjadi pemimpin/pengubah dimasyarakatnya bangsa dan negaranya. Apakah itu menempuh jalan pemenang seperti Sukarno, Hatta, Syahrir atau jalan mereka yang kalah seperti Tan Malaka, Pramoedya. Tidak jadi soal asalkan outcome yang terlintas dibenak orang-orang kebanyakan adalah sebagai pahlawan sejati.

Dalam pada itu, membentuk diri menjadi model yang di bayangkan mesti melalui banyak hal, pengalaman. Yang paling dalam dari semua itu adalah pengalaman dan pemahaman atas ilmu pengetahuan. Perjuangan menempuh jalur pendidikan. Serta menjaga konsistensi dari goncangan pertumbuhan dan perkembangan sebagai manusia normal, berkaitan dengan diri dan lingkungan sosialnya. Tidak jarang konsistensi atas suatu tujuan luhur diganjal atau dibenturkan oleh perkembangan diri sebagai manusia biologis. Di dalam tubuh kita terdapat Hormon yang ikut berkembang sejalan dengan perjalanan waktu. Dari tumbuh sampai matang. Pada masa-masa inilah yang agak sulit. Karena hormon-hormon ternetu misal hormon maskulinitas, feminitas menysaratkan timbulnya nafsu atau ketertarikan dengan lawan jenis yang kadang kala bila kita tidak sikapi dengan tepat bisa menimbulkan goncangan pada jiwa yang sekaligus mempengaruhi tujuan hidup yang kita pilih tadi.

Tidak sedikit dimasyarakat kita melihat banyak orang-orang hanya karena putus cinta terjebak dalam ruang waktu yang statis (confort zone). Merasa seakan dunia tak ada artinya lagi. Atau paling ekstrem bisa bunuh diri. Tentu ini sangat disesalkan. Tantangan lain, terlalu banyaknya pekerjaan/kegiatan seperti berorganisasi kebablasan selama menempuh jalur pendidikan. Saya pikir bukan beraktifitas pada saat pendidikan itu tidak baik, tapi itu hanyalah suatu penggemblengan diri yang semu. Sementara yang sejati adalah ketika kita berjuangan ke dunia realitas yang 80% berbeda dari dunia pendidikan dan lebih kejam.

Oleh karena itu, sebagaimana sebuah tantangan, mesti dilalui, disiasati, dituntaskan sehingga kita tidak terjebak dalam labirin ketidakpastian. Sehingga trek lurus, peta kehidupan yang kita buat selalu menjadi kompas kearas, dan tujuan yang kita cita-citakan.

Mungkin diatas adalah suatu yang ideal, atau mungkin bisa dikatakan terlalu umum. Kita akan paham dan mengerti dengan sungguh-sungguh bila dihadapkan pada realitas disekeliling kita. Sejauh pengamatan saya terhadap masyarakat kita sekarang ini. Saya menemukan suatu standar tinggi yang harus di dapat bila seseorang ingin dikenang dalam hidupnya. Kecerdasan diatas rata-rata, pendidikan paling tinggi pun,  bukan lagi hal yang heboh. Karena di zaman sekarang ini sudah banyak yang melakukan semua itu. Tapi toch masih saja kita temukan kebohongan, menghalalan segala cara untuk maksud-maksud busuk. Salah satu contoh, dibirokrasi kita, badan legislatif, juga yudikatif dimana standar tinggi tadi sudah mereka capai, tapi yang terjadi, mereka tetap acuh sama masyarakatnya. Mereka rela mengorbankan apapun, siapa saja demi keserakahan mereka dan kelompoknya.

Ini artinya dibutuhkan penyeimbang, pejuang kebenaran, kebenaran diperjuangkan bukan hanya niat, dan emosi ingin mengubah tapi lebih jauh lagi. Kita harus cerdas, mencapai tingkat pendidikan tinggi sampai menghasilkan karya-karya nyata di kehidupan. Dan yang paling tinggi dari semua itu adalah semangat menegakkan kebenaran dan keadilan, memerangi keserakahan dengan nilai-nilai luhur, budi pekerti yang menjadi jiwa dari setiap ajaran-ajaran luhur sang Pencipta. Sudah ada yang melakukan itu. Dan sekarang adalah giliran kita.

So the ultimate question is berada pada posisi manakan dirimu sekarang ini ?

Salam

by Umaee

2 thoughts on “Belajar, Berkarya Memahami Realitas

  1. Tampaknya tidak terlalu salah bila ada orang yang telah berhasil menempuh jenjang pendidikan tinggi, bahkan lulusan luar negeri, lalu menganggap dirinya orang sukses. Mungkin juga seseorang yang gagal dalam menempuh jalur pendidikan formal belasan tahun lalu, tetapi saat ini berani menepuk dada karena yakin bahwa dirinya telah mencapai sukses. Mengapa demikian? Karena, ia telah memilih dunia wirausaha, lalu berusaha keras tanpa mengenal lelah, sehingga mewujudlah segala buah jerih payahnya itu dalam belasan perusahaan besar yang menguntungkan.

    • makasih, tulisan ini saya melihat dari sisi jalur pendidikan, cz sy pikir mereka2 yg menempuh pendidikan bahkan sampai tahap ekspert yg akan menjalankan roda pemerintahan (birokrasi)_ yg mana menyangkut kehidupan masy yang lebih luas.

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s