Bukan Mimpi Biasa

Entah dari mana datangnya, mimpi seperti yang ku alami tadi pagi. Begitu bermakna bagi diriku, Mimpi itu bercerita tentang, kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang selama ini kulakukan. Bakti-bakti sosial ditempat-tempat yang pernah ku kunjungi. Namun satu tempat yang paling nyata tergambar dari mimpiku itu adalah bakti sosial di kampus, dengan bekerja sama dengan kantor pusat.

Disitu saya ditunjuk menjadi koordinator untuk menyukseskan Dies Natalis Kampus, menjalankan tugas saya, saya dibantu oleh teman-teman dari kampus yang sama, teman-teman lama, dan staf tata usaha kampus. Proses melayani pun dilakukan, berbagai karakter, latar belakang pasien ikut menjadi partisipan. Ada akademisi, staf administrasi, masyarakat umum biasa, juga mantan terorisme. Continue reading

Idealisme Yang Mati Suri

Guratan – guratan di wajah mu yang dulu samar-samar  perlahan-lahan kian tampak

Kau sekarang seolah kehilangan aura yang dulu terpancar diwajah itu

Aura bara api perjuangan, sama seperti cermin bara api perjuangan para pejuang revolusi

Di kala bangsa ini di jajah oleh belanda

Ingin rasanya ku terus duduk di depan mu berjam-jam menghabiskan waktuku

Demi mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan dan idealisme yang ingin kau perjuangkan

Waktu itu ingin rasanya ku menjadi seperti kau menyemangati orang-orang

Untuk bergerak bersama mewujudkan idealisme mu itu

Tapi maafkan aku, aku ditarik oleh sekelompok orang yang tidak aku percayai sebagaimana percayanya aku kepadamu

Aku tertawan pada waktu itu

Tapi kini aku sadar, ditawanan itu, aku telah menemukan, melihat garis perjuangan baru

Yang dengan berada disitu kita lebih mudah berkonsolidasi, mengajak kawan-kawan lain

Untuk berjuang lebih praktis, lebih bertenaga, lebih punya daya ledak ketimbang bayang-bayang yang sering kau ceritakan itu

Dengan berada disitu pula aku bisa menafkahi minimal diriku sendiri, dan menolong orang-orang lebih banyak

Itu lah dunia nyata kawan.

Sudah lama semenjak terakhir kita bertemu di kampus pelangi itu

Kini ketika ku kembali kesitu ternyata kau masih disana

Tampang mu pun sudah kurus, tirus, tak terawat

Memang kau disitu bak seorang raja yang disapa dan dihormati oleh yunior-yunior mu

Apakah kau ingin terus begitu?

Tidak sadarkah bahwa penghormatan itu adalah cacian halus mereka kepadamu

Cacian bahwa kau adalah orang yang terlalu lama terjebak  dalam bayang-bayang kampus

Pernahkah kau memikirkan mereka-mereka, keluarga, sanak saudaramu

Yang memberikan harapan besar kepadamu

Yang kelak menjadi penyelamat mereka

Memberi kebanggaan pada mereka

Raihlah tanganku, mari kita sama-sama berjuang

Aku membutuhkan semangat mengelegar mu dulu

Yang aku akui ku tidak punya sebaik dirimu

Untuk membantuku meneruskan garis perjuangan kita dulu

Bangkitlah kawan?

Manusia dalam Perfektif Ontologis

Saya percaya, disetiap sendi perjalanan hidup, Allah SWT selalu mengingatkan, menuntun, mengajari hamba Nya agar berhati-hati dan selalu istiqomah berada di jalan Nya. Namun yang justru sering terjadi adalah banyak diantara kita lupa, masa bodoh, emoh atas peringatan-peringatan itu. Gambaran yang seperti itu sebenarnya tidak jauh dari apa yang Allah SWT telah berikan dalam kalam Nya. Dia mengatakan dalam kalam Nya bahwa Manusia adalah mahluk yang paling sempurna pernah di ciptakan. Pada bagian lain, kesempurnaan itu, tidak lantas membuat manusia menjadi Mulia dihadapan Nya selama-lamanya. Tetapi juga akan membuat manusia menjadi yang paling hina dari semua mahluk. Continue reading

Diamonds of Words (1)

Kepiawan dalam menulis di dapat hanya dengan berlatih, belajar terus menerus. Karena itu, tidak cukup hanya dengan berpikir atau puas sesaat ketika menemukan kunci pembuka untuk melewati pintu kepenulisan

Diamonds of Word

Indentification  your enemy,

Be known paradox with your wish to change

With it you will be

Faith Never Ending

Belajar, Berkarya Memahami Realitas

Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang. Adagium ini mungkin sudah klise kita dengar tapi pernahkan kita merenungkan, sekaligus merefleksikan pepatah itu kepada diri kita? Mungkin pertanyaan ini sudah bukan lagi hal yang sulit bila dijawab oleh mereka yang telah menghasilkan sesuatu bagi kehidupan, terutama kehidupan masyarakat  dimana dia berada, atau menekuni suatu bidang keilmuan. Pada puncaknya kamu akan memperoleh predikat Agung, Luhur dan Suci dimata Tuhan, Masyarakat, dan Tanah Air mu. Lalu bagaimana dengan yang belum?

Banyak cara untuk bisa dikenang, bisa dengan berperilaku baik di masyarakat, atau membuat suatu kegaduhan sampai predikat-predikat jahat, baik dan pahlawan kau emban. Tapi pada tulisan kali ini saya tidak hanya ingin berbicara umum tetapi juta terkhusus menyangkut perjalanan diri seorang manusia. Kalau kita merefleksikan diri kita hingga sampai pada saat sekarang ini. Akan kita temukan suatu arah, jalan yang tidak lurus, linear tapi cenderung berkelok-kelok. Jatuh-bangun, tersungkur berdiri. Dengan energi, waktu dan materi yang tidak sedikit dikorbankan. Jadi apakah kita ingin energi, waktu dan materi yang kita korbankan itu tidak menghasilkan apa-apa? Pasti tidak ada yang ingin demikian. Continue reading

Seribu Dukungan Untuk KPK

“Powers tends to corrupt” begitulah pepatah yang acapkali kita dengar. Dan masyarakat kita sudah fahsum kalau itu pula yang terjadi di negeri ini. Semenjak reformasi sampai sekarang ini sedah 14 tahun lamanya negeri ini mejalankan proses pemerintahan berbasis sistem demokrasi. Sudah kita ketahui bersama juga demokrasi meniscayakan pembagian kekuasaan pada lembaga-lembaga negara, Eksekutif, Legislatif, Yudikatif dan di era kebebasan seperti sekarang ini mucul pers sebagai pilar ke empat demokrasi. Apakah hasil dari keempat pilar negara kita itu apakah sudah menjalankan tugas dan kewenangannya masing-masing? Saya kira masih jauh panggang dari api.

Awal-awal reformasi, euforia, penjatuhan rezim memang sangat kuat. Sehingga hampir seluruh lembaga negara yang dulunya dipimpin oleh antek-antek penguasa diganti. Semua yang merasa diri menjadi pejuang reformasi, aktivis-aktivis reformasi adalah aktor-aktor utama yang mengambil posisi-posisi penting pada massa itu. Namun, di tengah euforia yang begitu kuat. Sistem demokrasi yang kita pilih, rupanya rapuh, pembagian kekuasaan dari pusat ke daerah-daerah telah memunculkan kongsi-kongsi besar, manusia-manusia bejat sebagian dari mereka adalah juga aktivis reformasi itu. Yang secara sistematis mengambil keuntungan dari lemahnya lembaga yudikatif pada saat itu.

Terjadilah korupsi dimana-mana, dari pusat sampai didaerah-daerah. Apologi-apologi mereka sering didengungkan ditelinga kita bahwa era sekarang tidak lebih korup dari era sebelumnya. Saya kira sama saja, yang berbeda adalah era sebelumnya korupsi itu bisa disembunyikan dari mata masyarakat, ada istilah korupsi di bawah menja, tapi sekarang korupsi telah terang-benderang dilakukan, istilanya korupsi di atas meja bahkan bukan hanya di atas meja bahkan dengan meja-mejanya pun dikorupsi. Melihat kondisi seperti ini. sebagian dari mereka yang terpanggil untuk memperbaiki negara ini, memperjuangkan membentuk suatu lembaga khusus untuk menyelesaikan persoalan yaitu KPK yang didasari oleh UU 30 tahun 2012.

Pelan-pelan tapi pasti, adanya lembaga KPK ini, terbukti efektif memulihkan nama baik peradilan kita, terutama berkaitan dengan penanganan korupsi. Tidak tanggung-tanggung siapa pun dibabat, tidak peduli berada dilingkungan pemerintahan atau sementara menjabat, keluarga terdekat, besan dsb pun ditangkap dan di adili.

Tapi bukan perkara mudah bagi lembaga ini, melaksanakan tugas luhur, membersihkan negara dari para koruptor-koruptor. Koruptor merasa dirinya terancam dengan lemabaga ini, telah melakukan berbagai macam cara, untuk melemahkan KPK. Sudah menjadi rahasia umum kriminalisasi Antasari adalah contoh valid untuk menunjukan eksistensi perlawanan mereka terhadap lembaga ini.

Kini mereka bekerja dengan cara silent operation, karena itu kini mereka telah bersatu pula untuk melawan KPK yang akan menghapuskan eksistensi mereka. pola korupsi sendiri-sendiri tidak mau dilihat oleh instansi, lembaga, orang lain. Kini telah menjadi korupsi berjamaah. Oleh karena itu, sekarang mereka telah padu, membentuk kelompok koruptor yang bersama-sama ingin meruntuhkan kedikdayaan KPK. Sehingga tidak jarang terminologi korupsi sistemik, karena memang masing-masing dari mereka telah saling menyandera. Masing-masing telah korupsi berjamaah.

Kini, bentuk kekompakkan mereka telah tampak dengan melakukan upaya penggembosan kepada KPK dengan mewacanakan revisi UU KPK yang katanya masih jauh dari sempurna untuk membersihkan korupsi di negeri ini. Pasal-pasal krusial yaitu pasal mengenai Penuntutan dan penyadapan. Telah merupakan target pertama untuk diganti.

Jadi, tidak bisa lagi kita melakukan upaya-upaya taktis sederhana, menyerahkan pada sistem yang berlaku, pemerintah, legislatif dsb. sehingga untuk melawan gerombolan koruptor ini, kita harus melakukan taktis ekstraordinari dengan melawan mereka dengan gelombang dukungan dari seluruh rahyat Indonesia. Dengan beberapa catatan. Pertama, Menyuarakan dukungan oleh siapa saja, dengan media apa saja. Kedua, meski diingat dan diperhatikan siapa-siapa saja anggota legislatif yang berupaya secara terang-terangan ingin merapuhkan KPK ini dengan tidak memilihnya lagi dipemilu legislatif yang akan datang.

Inilah salah satu dukungan saya terhadap penguatan KPK sebagai lembaga negara saya masih percaya menberantas korupsi di negara ini

Salam

by Umaee