demokrasi2

Menatap DKI Jakarta Baru & Demokrasi Kita

Asumsi elit politik, satu persatu mulai berguguran, selama ini mereka menganggap diri sebagai manusia paling berkuasa di negara ini, bagaimana tidak, mereka dengan kendaraan politik berupa partai politik mampu mengenggam kekuasaan atas rakyat, karena itu pula mereka dapat berbuat sesuka hati, kecenderungan selama ini adalah memuaskan nafsu diri mereka, meskipun dil ain pihak abai, menyengsarakan rakyat. Menurutku ada jurang yang sangat besar antara elit politik dengan masyarakat. Memang walik/elit politik yang duduk memperjuangkan nasib rakyat dipilih melalui mekanisme demokrasi yang diadakan berkala. Berbagai janji di ucapkan. Tapi setelah itu hampir tidak ada yang begitu signifikan mengubah rakyat, setidaknya seperti yang kita saksikan seperti sekarang ini.

Angin perubahan itu akhirnya datang juga, pada saat ini, sebagaimana terjadi pada persta demokrasi pada pemilihan Cagub DKI Jakarta. Terpilihnya Jokowi-Ahok mengalahkan Foke-Nara adalah representasi dari begitu lemahnya parta politik dalam mewadari kepentingan publik. Lihat saja basis dukungan, partai penyokong yang ada dibelakang mereka. Partai-partai besar seperti Golkar, Demokrat, PPP, PKS, PAN, PKB, dan Hanura berada di pihak Foke-Nara, sementara Jokowi-Ahok cuman didukung oleh dua partai yaitu PDIP dan Gerindra. Ternyata dari hasil Quick Count yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey, semuanya memenangkan Jokowi-Ahok.

Ini memperlihatkan kekuatan partai pengusung di depan pemilih bukan lagi menjadi faktor penentu, pemilih tidak percaya lagi pada partai untuk mengantungkan nasib mereka. Dalam pilkada DKI Jakarta ini juga, berbagai strategi digunakan, salah satunya adalah SARA, terutama Agama Islam, hampir semua ulama, ustadst, ormas agama dikerahkan,  mereka berkampanye disemua lini tempat kampanye, dari ceramah di masjid, majelis ta’lim, media massa, Tv, Iklan dsb. Baik itu terselubung bahkan terang-terangan, bahkan tidak jarang mereka mengancam demi untuk mengarahkan memilih calon mereka.

Miris saya melihat disini agama dipermainkan, ayat-ayat suci digunakan demi untuk memenuhi nafsu politik. Apakah Islam yang benar seperti yang mereka pertontonkan itu?, saya pikir tidak, nilai-nilai Islam lebih tinggi dari semua itu, dia tidak direduksi menjadi simbol-simbol tertentu. Dia tidak bersifat memaksa, menghasut, atau bahkan membunuh. Nilai-nilai Islam adalah kedamaian, ketentraman bagi sekalian alam. Saya yakin bukan Islam tidak benar, yang salah adalah ustads seleb atau orang-orang yang rela mengadaikan agamanya untuk kepentingan politik, atau menerima keuntungan materi untuk dirinya sendiri. Lalu dengan kekalahan ini apakah kemurniah agama Islam itu telah hina?, saya kira tidak, yang hina adalah mereka yang salah menggunakan agama itu sendiri untuk kepentingannya.

Menurutku ajaran Islam itu adalah bagaimana mereka mampu dekat dengan masyarakat, amanah, mensejahterakan, menjadi teladan bagi mereka. bersama-sama membangun daerah dalam suka dan duka. Ini yang saya kira dilihat oleh masyarakat DKI Jakarta dalam menentukan pemimpinya, mereka tidak terpengaruh oleh ulama seleb. Tetapi lebih dari sosok yang mereka lihat. Dengan rasionalitas saya sosok Jokowi-Ahok lah yang merepresentasikan nilai Islam itu sendiri.

Terkait dengan kampanye Agama ini, ada yang menarik dari calon-calon yang bertarung, ada calon dari partai Islam tertentu yang pada pemilihan putaran pertama, menjadi Cagub juga, pada saat itu dengan terang-terangan di depan publik “menghina” lawannya karena terindikasi korupsi. Setelah putaran kedua malah partai itu mendukung Cagub yang ia cerca tadi. Meskipun di media belum ada yang memberitakan ini, tapi saya pikir mereka akan menjadi pihak yang paling malu dinatara partai-partai oportunis lainnya. Malu karena mengusung nama Islam dan malu karena “menjilat” ludah sendiri.

Strategi lain yang menarik adalah perang di media sosial, terutama di twitter, di sini pertarungan lebih panas, tegang, menghujat, masing-masing pasangan calon mencerta, memaki, memfitna calon lawan-lawannya masing-masing, bagusnya pada titik terntentu mereka saling membuka kedok masing-masing. Dari ungkapan mereka ada yang mendapatkan uang 1-2 M untuk satu tim sukses. Ini memperlihatkan sosial media begitu berpengaruh pada pilihan pada suara pemilih sebelumnya tapi kini tidak berlaku lagi. Pada akhirnya pemenang sudah ditentukan, mereka yang berbohong akan tampak, siapa pemfitnah tampak. Sehingga kedepannya tweps tidak akan dengan mudah lagi dipengaruhi oleh akun abal-abal, pseudo atau anonim.

Kedepannya mudah-mudahan perayaan demokrasi di DKI Jakarta ini, menjadi patron untuk proses demokratisasi di pilkada-pilkada di berbagai tempat lain di tanah air. Rakyat tidak lagi memilih berdasarkan partai tertentu, atau isu-isu sara. Tapi lebih pada sosok, dengan trek record yang terbukti. Sambil menunggu partai berbedah diri untuk memperbaiki kader-kadernya dan memperbaiki partai politik agar, kembali dipercaya oleh rakyat.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s