Cover Depan

Belajar Resensi : Politik Identitas dan Masa Depan Prularisme Kita

Cover Depan

Baru saja menyelesaikan membaca buku Buya Safii Maarif dengan judul “Politik Identitas dan Masa Depan Prularisme Kita” terbitan yayasan Paramadina. Buku ini pada dasarnya hanyalah sebuah makalah yang dibawakan oleh Buya dalam acara berkala dalam rangka memperingati wafatnya Nurcholis Madjid yang masuk dalam satu lembaga Nurcholis Madjid Memorial Lecture(NMML). Menariknya buku ini tidak hanya menampilkan buah pikir Buya sebagai narasumber inti tetapi juga diundang pada pakar atau mereka yang mumpuni dibidangnya untuk mengkritik atau memberikan sanggahan terhadap makalah ini. Dan juga ada flash back (tanggapan balik) Buya atas kritik dan sanggahan mereka.

Buku ini pada bingkai besarnya menerangkan sejarah politik identitas dengan mengambil beberapa wilayah-wilayah dunia sebagai awal mula dan perkembangan serta seluk beluk yang terjadi pada politik identitas diwilayah itu sampai pada poiltik indentitas yang terjadi di negara kita. Makalah ini oleh Buya dibagi dalam tiga bagian besar pertama teori dan praktek politik identitas. Politik identitas dikenal luas sudah sejak lama, yaitu ketika perlawanan kulit hitam atas kesewenang-wenangan kulit putih dengan Martin Luther King sebagai pelopor.

Meskipun menggunakan media agama disini tapi tujuan besarnya adalah memperoleh hak yang sama (equality), dan menghilangkan segala macam penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa pada waktu itu. Politik identitas esensinya adalah upaya radikalisme dan perlawanan atas suatu sistem yang salah satunya tidak memberi ruang gerak, bahkan penghapusan (genosida), pembantaan, kekerasan dan seterunya Kedua, Buya menceritakan ada upaya diaspora yang berbeda antara gerakan kepada the others yang tidak sepaham dengan dirinya. Ada yang menamakan mereka ini dengan sebutan oposisi biner atau logika strategis.

Buya menjelaskan bahwa ada berbagai macam latarbelakang radikalisme, bisa dari suku, ras, etnis, dan agama. Tapi menjadi perhatian Buya adalah mereka yang sering menjadikan agama sebagai alat untuk menghakimi suatu golongan, dengan mengatakan golongan lain dengan sebutan, sesat, kafir harus dibasmi dll dengan terepresentasi menjadi anti nasionalis, anti prularis dan anti demokrasi. Oleh salah satu penanggap mengatakan faktor penyebab dari ketidaksukaan pada the other ini adalah karena ketidak berdayaan mereka di tempat asalnya untuk hidup dan mengemgangkan paham yang mereka miliki oleh karena tekanan politik ekonomi kepadanya.

Lebih jauh Buya menjelaskan berbeda kalangan agama dalam “melarikan diri” atau menjauh dari negara asalnya ke benua amerika dan eropa. Di Amerika kalangan radikalisme agama ini tidak terlalu memperlihatkan aksi kekerasan dan pertentangan terhadap lingkungan mereka. Ternyata kalangan ini adalah mereka yang terdidik apakah itu yang datang untuk mencari pendidikan, sekolah, atau juga mereka yang bekerja di departemen-departemen, perusahaan-perusahaan besar. point pentingnya disini adalah adanya keterbukaan pemikiran dari kalangan radikalis agama ini untuk menerima paham lain diluar mereka.

Lain halnya dengan di Amerika, di Eropa kalangan radikalis agama, datang sebagai pencari kerja, buru, pedagang-pedagang kecil sehingga tempaan kuat dari paham-paham lain yang berbeda dari mereka tidak didapati yang terjadi selanjutnya adalah miskinnya pandangan, dan maraknya hasuran yang mengakibatkan semakin besar rasa tidak suka kepada kalangan lain dari mereka. salah seorang penganggap lebih bahkan menerangkan bahwa terjadi pertentangan didalam dirinya disatu sisi menolak demokrasi, pluralisme, dan nasionalisme. Sementara dipihak lain mereka hidup di negara yang menjunjung tinggi demokrasi, nasionalisme dan prularisme. Meskipun demikian penerimaan negara-negara terhadap keberadaan mereka berfariasi ada yang melarang sama sekali, membatasi sampai membebaskan. Termasuk yang membebaskan disini adalah Indonesia.

Bagian ketiga Buya melihat politik identitas yang ada di Indoneisa. Perlu ditegaskan kembali disini yang termasuk dalam bahasan ini adalah mereka yang anti nasionalisme, anti demokrasi dan anti pluralisme terutama yang tampak dewasa ini. Dengan demikian untuk melacak keberadaanya di Indonesia tidak susah kita akan mudah menemukannya, di buku ini Buya menyebut Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hisbuh Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI)dan PKS. Oleh buya mereka ini adalah perpanjangan tangan dari wahabisme di arab saudi yang datang ke Indonesia dengan wajah-wajah yang berbeda tapi satu tujuan. Membangun khilafah, menerapkan syariat islam di Indonesia.

Dalam pandangan wahabisme ini oleh buya mengatakan terjadi pemasungan intelektualitas, dengan dalih kembali kepada kitab Alquran. Bisa dikatakan terjadi simplifikasi agama, monopoli pemahaman. Itu yang pada saat ini berhasil mereka terapkan di Saudi. Sementara agama itu menurut Buya sangat kompleks dan harus menyesuaikan dengan dinamika sosial yang berkembang dari masa ke masa. Walaupun demikian sebagaimana sejarah pembungkaman intelektualis, akan terjadi suatu masa dimana kreasi, inovasi dari upaya pembebasan intektualitas itu akan menemukan jalannya. Kungkungan itu akan retak dan porak-poranda tinggal menunggu waktu saja.

Akhirnya politik identitas itu bukanlah suatu yang tidak boleh, dari berbagai macam penanggap jelas bahwa politik identitas akan selalu didorong (menarasikan dirinya) sejauh tidak merusak tatanan yang ada, ketertibam umum maupun ketertiban masyarakat. Dan semua itu kalau semuanya berpegang pada prinsip persatuan dan kedamaian di antara manusia dikedepankan. Khusus untuk di Indonesia yaitu berpegang pada pancasila dan sejarah persatuan bangsa ini.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s