foto by kampungtki.com

Lebaran Bareng Keluarga di Kampung

Bagiku lebaran adalah hari yang punya arti tersendiri, spesial, hari anugrah dari Allah bukan karena hari ini semata hanya rutinitas hari yang dirayakan setelah ramadhan berakhir lebih dari itu karena hari lebaran adalah saatnya mereka yang diperantauan bagi sebahagian besar yang sempat segera balik ke kampung untuk bertemu dengan sanak keluarga kecil maupun besar, demikian pula dengan saya. Ini pula lah mungkin yang menjadi fitrah terpendam manusia yakni selalu ingin kembali ke asal dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Di tempat itu juaalah udara pertama, perkenalan pertama dengan lingkungan yang fana ini. Seangkuh apapun manusia, di dalam lubuk hati yang terdalam ada serpihan-serpihan asa untuk rindu dan kangen pada dimana awal dia berasal.

Kali ini merupakan lebaran yang paling lama kutinggalkan yakni setelah tahun lalu tidak lebaran bersama di kampung sementara pada tahun-tahun sebelumnya rutinitas tiap tahun selalu sama-sama berlebaran. Dalam waktu yang relatif lama tersebut kutemukan ada dinamika kehidupan yang terus berdenyut seiring dengan berjalannya hari di kampung. Pembangunan ada dimana-mana, bergulirnya pergantian kepemimpinan politik, banyak cerita-cerita gembira sebanding pula dengan cerita-cerita mengiriskan dan menyedihkan. Seolah terbangun dari tidur panjang ketika membuka mata segala-galanya telah berubah. Ku sadar inilah kehidupan.

Kalau kita mau berpikir mungkin disemua tempat, level kehidupan, keluarga adalah satu-satunya tameng terakhir dikala kita tersuduk dipusaran waktu, dia melindungi kita dikala bara, badai kehidupan menerpa. Dia juga motivator terdepan dikala ada riak-riak kecil menghadang impian tertinggi kita. Dia hadir ketika kau inginkan, dia tidak akan menyimpan segunung dosa, dendam yang kau sematkan kepadanya karena dia selalu mengikhlaskan apapun perbuatan walaupun itu sangat perih dan pedih bagi mereka. Dia adalah payung, penyokong, fondasi dasar dimana kita berdiri dan berpijak.

Ketika ku kembali kekampung halaman, kerhangatan yang telah lama pergi kembali kudapati, ku terenyuh, senang, bangga berada di sekeliling keluarga. Keluarga disini bukan saja keluarga kecil kita, ayah, ibu dan saudara-saudara. Tetapi juga keluarga besar kita, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu dekat atapun sepupu jauh, ipar, kemenakan dst. Momen lebaran ini pulalah ikatan-ikatan itu kembali dibersihkan dan diperkuat.

Akan tetapi keharmonisan keluarga-keluarga yang tinggal dalam satu kampung pun tidak lantas terus kokoh. Goyah, retak kenyataan itulah yang kudapati sekembalinya saya dikampung. Hanya saja untunglah ada kakek, nenek yang segera melerai cekcok-cekcok kecil itu. Namun demikian apa jadinya ketika Ia telah kembali dipanggil oleh Nya. Ini lah ikrar saya, untuk menjadi penengah diantara mereka. Belum ada memang yang kulakukan tetapi dengan menjalin hubungan yang baik kesemua pihak dan membanggakan mereka, adalah sedikit andil, peran yang saya berikan. Ku lakukan semua ini karena kuterenyuh ketika mendengar dari kakek saya bahwa tujuh generasi sebelum mu, kakek buyutmu, namanya Jaafara, Maa Jaa’ selalu berdoa kepada Allah untuk menjaga keluarganya dan selalu diberikan penghidupan yang baik bagi mereka, anak cucu, cicitnya digenerasi-generasi mendatang.

Di kampungku di Buton, keluarga adalah segala-galanya dengan keluarga kamu bisa menjadi pejabat seketika hanya karena berhubungan keluarga dengan Pemimpin daerah itu. Keluarga juga bisa menjadikan kamu mendapat pekerjaan yang bergengsi di daerah itu, keluarga juga bisa menjadi pelindung, dan pembela utama ketika kamu mendapat ancaman dari orang lain. Oleh karena itu di kampung ini sangat diperhatikan tali menali keluarga, atau silsilah atau turunan. Bila mencoba bertanya tentang silsilah keluarga hampir semua orang dewasa akan mampu mengurut-urutkan sampai beberapa generasi sebelumnya. Silsilah keluarga pula menjadi pertimbangan pertama ketika kedua keluarga besar ingin menikahkan anak-anak mereka. Sebahagian besar dari mereka berkeyakinan anak yang baik akan lahir dari keluarga yang baik pula, begitupun sebaliknya anak yang buruk perangainya lahir dari orang tua yang demikian. Sehingga acapkali tidak terjadi pernikahan bila kedua keluarga tidak sepakat walaupun cinta kepada kedua pasangan sudah menjulang tinggi. Generasi penerus adalah aset bagi mereka, dan keluarga besar mereka, tidak jarang prestasi kecil yang diraih keluarganya merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Saya hanya berharap, menjaga kemurniah silsilah ini terus dipertahankan di kampungku, apalagi badai modernitas yang mengajak orang-orang untuk berpikir individual terus menerus menerjang dan merasuk dan masuk dikampung ini. Sehingga budaya kekeluargaan terus terjalin dengan harmonis karena hanya dengan itu kehangatan dan kesejahteraan, kepuasan hidup akan hadir ditengah-tengah masyarakat.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s