kids-friendship-poster

Ketemu teman-teman lama di Makassar

Setelah hampir tiga tahun kini saya menempatkan singgah di Makassar satu rangkaian perjalanan mudik yang beberapa saat lalu ku lakukan. Rasanya Eksotisme kota besar bagian Timur Indonesia ini tidak pernah berubah sejak dulu. Tempat diaspora dari banyak etnis Jawa, Sumatera, Maluku, Ambon, Buton, Bima, Ternate, Papua dll menuntut dan menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Percepatan pembangunan pun begitu pesat disana sini, Hanya kali ini rasa macet, padat kendaraan hilir mudik makin terasa, perkiraanku butuh sedikit waktu lagi kira-kira 5 – 10 tahun lagi kota ini akan sama dengan kota-kota besar di Jawa terutama macetnya.

Bersyukur dalam dengan waktu 4 tahun lebih saya pernah berada di kota ini, Alhamdulillah segala hal tetang kota dan isinya ini sedikit banyak kuketahui. Keberadaanku disini pula banyak meninggalkan jejak-jejak sejarah, paling tidak disini banyak kutemukan teman-teman baik dan akrab yang selalu membimbing dan bersama-sama dalam satu perahu menempuh pendidikan dan hidup ke tangga impian kami masing-masing. Memang tidak semua teman-teman yang pernah bersamaku dulu berasal dari kota ini, tapi diantara mereka masih berjuang dan kutemui dan dengan merekalah kegiatan transitku ini kuisi untuk saling berbagi dan menjalin tali silaturahim yang sempat senggang.

Dalam satu pertemuan, ada rasa hati terbasuh oleh embun pagi, segar, dingin, kemudian meniggalkan kehangatan, menerawangi seluruh kujur tubuh. Sejahat apapun dimasa lalu, pas ketemu kembali diantara kami tidak pernah lagi ada yang menghiraukan itu, senyum terbaik dan terindahlah yang kami perlihatkan kepada masing-masing. Inilah mengapa perpisahan ini selalu meninggalkan kesan dan menghapus segala kejelekan-kejelekan dan saat bertemu kembali hal-hal indah akan menyelimuti kita.

Berbagai hal yang seakan tak akan habis habis untuk di bagi dan diceritakan. Berbagi senang, berbagi kisah kisah seru serta bernostalgia pada kejadian-kejadian dulu tak liput dari perbincangan kami. Tapi bukan ini sebenarnya esensi sebuah pertemuan. Saya melihat bertemu atau menjalin kekerabatan dengan orang lain adalah salah satu upaya membangun Jejaring. Jejaring adalah senjata kuat bila kita terdesak oleh keadaan. Jejaring ini pula yang menjadi kekuatan terbesar dari pada bussines man. Jejaring juga memudahkan kita menggapai harapan-harapan masa depan. Di dalam berjejaring ada kepercayaan diantara masing-masing. Karena saking pentingnya memutuskan jejaring hanya akan menyengsarakan, menyesakkan hati.

Tidak cuma di dunia manusia di dunia maya pun, mempunyai andil besar dalam memajukan informasi. Bagaimana google terkenal karena mampu menyambungkan dari ratusan juta situs hanya dengan Jejaring laba-labanya yang terkenal itu. Dunia blogging pun hanya akan terkenal dan kuat bila di muka mesin pencari sering juga dikenal SEO bila jejaring off page dan on page dilakukan.  Kalau kita mau meratapi, merenungkan maka jerajing tiada lain adalah hukum alam yang manusia tidak bisa lari daripadanya. Di dunia politik jejaring memang penting tapi bukan menurut esensinya mengabdi kepada kemanusiaan. Disini jejaring hanya dilakukan bila ada kepentingan, sebagaimana adagium yang sering kita dengan “Tidak ada teman yang abadi yang ada hanyalah kepentingan yang abadi”.

Hanya saja kadang kala kita lupa, berjejaring hanya untuk bergagah gagahan, membanyak-banyakan kawan, yang dengan begitu kebanggan kalau tidak mau dibilang sombong kepada kawan-kawan lainnya. Bagiku berjejaring adalah menjalin tali-tali kuat kepada setiap sendi-sendi gunung untuk menyeberangi tebing curam yang tak mengenal lengah sedikitpun. Lengah berarti tidak akan selamat. Jejaring akan berarti, berguna apabila digunakan untuk membangun jalan menyukseskan ide, visi, harapan, impian terkuat di dalam diri.

Akhirnya, tak terasa tiga hari lamanya saya singgah di Makassar, senang juga meninggalkan banyak kenagan di kota ini juga dipertemukan dengan teman-teman yang dengan penuh keceriaan menyambut dengan suguhan kebersamaan yang tak terlupakan. Kepada kalian ku ucapkan banyak terimah kasih. Tibalah saya untuk melanjutkan perjalanan ke kampung halaman. Buton Here I’am?

Note: kisah ini adalah seharusnya ku tulis sewaktu di Makassar tapi karena ketidak sempatan waktu baru di posting pada kesempatan ini :) 

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s