Membedah Sila Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Ilustrasi

Maraknya konflik-konfilk sosial belakangan ini, bisa jadi merupakan gejala Instabilitas nasional, kita lihat dimana terjadi kekerasan dengan berbagai latar belakang. Satu diantaranya adalah Agama. Dimasyarakat kita, sering kita melihat kekerasan sering dilakukan oleh kelompok ajaran agama tertentu atas nama membela agama dari gangguan-gangguan luar yang coba merusakknya. Dalam konteks ini, saya akan berbicara mengenai problem klasik yang sering diperbincangkan tapi tak kunjung usai yaitu Agama dan Negara.

Diskursus mengenai Agama dan Negara dalam cakupan negara Indonesia, sudah sangat lama dipersoalkan. Perdebatan keras bisa kita temui di awal-awal pembentukan negara Indonesia. Bila kita membuka risalah-sisalah perjuangan Founding Father kita, dengan menelusuri jejak-jejaknya melalui sidang BPUPK, PPKI, dan Konstituante, akan telihat bahwa upaya menjadikan bangsa Indonesia menjadi negara agama begitu keras dilakukan, oleh mereka-mereka yang getol memperjuangan Agama, khususnya agama Islam. Akan tetapi gagal dilakukan. Kenapa?

Syarat utama berdirinya sebuah bangsa adalah mempunyai Filosofi negara/dasar negara/ideologi negara. Disinilah letak perdebatan kerasnya. Para Founding Father kita dulu, ada beberapa dari mereka mencoba merumuskan dasar negara. Banyak model/konsep dasar negara diperlihatkan di antara pembuat konsep itu terdapat Sukarno, Moh Yamin, dll sampai akhirnya ditemukannlah Pancasila seperti yang sekarang ini. Di antara banyak sila menarik membicarakan sila pertama, karena disinilah pangkal masalah dari problem kebangsaan atas nama Agama.

Ketika semua Founding Father telah sepakat untuk menjadikan negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan. Muncul problem ketika kalimat ketuhanan ini bebunyi “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan syariat Islam bagi pengikut-pengikutnya”. Oleh Sukarno pada waktu itu yang juga salah satu panitia kecil perumus Pancasila, tidak setuju. Ia bepikir bila itu dibawa pada sidang BPUPK, konstituante akan menimbulkan perpecahan di antara sesama anak bangsa. Dengan demikian akan menggagalkan upaya pembentukan Negara yang telah lama diperjuangkan. Sementara waktu itu, Bangsa Indonesia, dalam berada masa krisis,  dimana tidak boleh tidak negara Indonesia harus didirikan dan konsekuensi dari berdirinya  negara adalah adanya suatu konstitusi yang dimiliki dan disepakati bersama.

Dalam perdebatan panjang itu akhirnya kelompok Islam yang keukeh terhadap kalimat itu setuju untuk diganti. Mereka negara Indonesia tetap negara berdasarkan Ketuhanan, namun kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pengikut-pengikutnya” diganti dengan “Yang Maha Esa”, sehingga menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa seperti sila pertama Pancasila sekarang ini.

Mengerti mengenai apa sebab sila pertama pancasila disetujui oleh para Founding Father kita, akan sedikit membuka wawasan kita akan kebangsaan Indonesia. Pertama, Formulasi sila ini adalah yang paling representatif untuk merangkul semua anggota sidang konstituante pada waktu itu, kalau kita mau melihat keterwakikan, di situ akan kita temukan berbagai macam etnis, ada Jawa, Madura, Minang, Batak, Ambon, Sulawesi, keturunan Arab, Eropa dll. Agama pun begitu, ada Islam, Kristen, Hindu, Budha, kepercayaan keyakinan lain, dll. Kedua, rupaya dalam diri, jiwa manusia Indonesia masih percaya pada kekuatan di luar manusia. Degan kata lain religiusitas pasti ada di dalam diri manusia Indonesia.

Orisinalitas bangsa ini, tidak bisa muncul begitu saja dalam diri manusia Indonesia, orisinalitas itu telah lama dibentuk, bahkan lebih lama dari agama-agama yang kemudian datang di Indonesia ini. Kalau kita melihat berdirinya bangsa Indonesia, akan kita semua bahwa kebudayaan bangsa Indonesia telah lebih dari 1000 abad hidup dalam kepercayaan di luar manusia, untuk membuktikannya sampai sekarang masih kita lihat ritus-ritus yang masih eksis, di gunung, di dalam gua, dll. Berikutnya hadir kepercayaan Hindu/Budha selama 14 abad, kemudian Islam selama 7 abad, dan belakangan Kristen 4 abad. Dalam perjalanannya kemudian semua aliran kepercayaan ini Ini artinya Jiwa bangsa Indonesia tidak bisa jauh dari religiusitas.

Memang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, kita menemukan ada Ideologi lain yang jauh dari religiusitas yakni ajaran komunis yang secara basis keyakinan adalah sekuler (tidak percaya agama) tapi dalam implementasinya. Kalau kita buka sejarah, akan kita temukan seorang komunis yang pada waktu itu juga sebagai juru komunikasi partai komunis adalah seorang Haji, dia adalah KH. Dasiku Siroj. Kita tidak akan bisa membayangkan ideologi sekuler bisa bersatu dengan agama. Pada suatu ketika KH. Dasuki Siroj ditanyai kawan-kawan komunisnya mereka adalah Prawoto dan Kisman. ”Kembalilah pada kitab kita (komunis)” KH. Dasuki Siroj menjawab ” Yang saya lakukan ini adalah cara saya mengimplementasikan ajaran agama saya”.  Jadi walaupun kita tahu memang ada yang sekuler, tapi di dalam dirinya selalu ada jiwa religius. Paling tidak masih takut sama “genderuwo

Ketika hubungan antara agama dan negara menemui jalan buntu. Ternyata ilmuan-ilmuan moderen baru mengetahui bahwa sesungguhnya negara itu tidak bisa seluruhnya dipisahkan dengan agama. Dalam tradisi masyarakat Barat pun baru sekarang ini sadar pentingnya nilai-nilai agama masuk dalam kehidupan bernegara. Di eropa misalnya upaya memisahkan diri dengan negara begitu kuat, ditandai dengan revolusi pada waktu itu, dimana agama harus menjauhkan diri dari urusan agama. Tapi usaha ini ternyata tidak serta merta menjadikan negara itu sejahtera.

Akhirnya walaupun dasar negaranya sekuler tapi mereka selalu berusaha mendekatkan negara dengan agama. Contoh prancis yang begitu sekuler, sampai-sampai tidak boleh simbol-simbol keagamaan dipakai di publik tapi toch masih ada sekolah-sekolah agama disubsidi oleh pemerintah. Begitupun di Skandinavia, dikenal sebagai negara sekuler tapi di negara tersebut terdapat gereja negara. Sementara amerika, sudah sejak lama mengaitkan segala kehidupan bernegara dengan nilai-nilai agama. Sebagimana kita ketahui mayoritas penduduk amerika adalah imigran, dimana hampir semua penduduk menganut agama yang sama jadi lebih homogen. Sehingga pemerintah dengan mudah mengatur urusan negara.

Disini mesti kita bangga kepada Founding Father kita, karena pemikirannya telah 1000 km jauh melangkah, sadar akan pentingnya agama ikut mengatur sendi-sendi kehidupan bernegara. Untuk Indonesia karena pluralitasnya tidak mungkin menjadikan ajaran satu agama menguasai, mengatur seluruh kehidupan masyarakat. Oleh karena itu semua agama-agama yang ada harus merumuskan satu titik temu. Berupa nilai-nilai yang disepakati bersama yang berlaku universal. Sekarang kita tahu bahwa nilai-nilai itu telah dirumuskan dalam seluruh sila pancasila, nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan.

Nilai-nilai itu kemudian kita jaga dari upaya-upaya pemaksaan oleh satu atau beberapa kelompok tertentu merusaknya. Maka kita mandatkanlah kepada pemerintah sebagai yang paling berhak menegakkan, menentukan, dan menghukum, siapa saja yang mencoba merusak nilai-nilai itu. walaupun itu menggunakan senjata.

Sedangkan kehidupan beragama masyarakat Indonesia, ia berada dalam lingkup pribadi, atau komunitas-komunitas keagamaan. Semua ajaran-ajaran keagamaan silahkan dijalankan tapi asalkan tidak menggangu ketentraman yang berbeda keyakinan.

Terakhir, ada suatu kaidah emas, yang itu pun dimiliki oleh setiap agama-agama.  Kaidah emas itu berkata bahwa Janganlah engkau berbuat kepada orang lain suatu yang orang lain tidak mau melakuan seperti itu pada dirimu sendiri. Dalam Islam kita kenal Kalimatun SawaTidak beriman seseng ketika belum mencintai orang lain sebelum mencintai dirinya sendiri”. Atau kata konfusius bahasa Ketuhanan itu adalah “Ketika engkau melihat anak kecil berada di pinggir jurang atau di tepi sungai maka rasa kemanusiaanmu akan segera menyergap anak kecil itu dan kau tidak sempat berpikir agamanya apa, etnisnya apa, keuntungan bagiku apa”. Kalau bahasa ketuhanan hadir dalam dirimu engkau akan mencintai sesamamu, agama apapun, seperti engkau mencintai dirimu sendiri.

Tulisan ini diikutsertakan pada “lomba blog Pustaka ID”

lomba blog pusaka indonesia 2013

Salam

by Umaee

Advertisements

Jalan Sunyi Sang Pendekar

Zaman itu, di dataran Cina hampir tiap hari terjadi peperangan, perebutan wilayah kekuasaan seluas-luasnya adalah tujuannya demi memenuhi ambisi kaisar-kaisar serakah, segala cara pun dilakukan, tidak peduli siapa yang menghalangi, bagi mereka yang kooperatif maka akan dirangkul dan secara otomatis harus tunduk pada kaisar. Bagi merek yang melawan akan dibumi hanguskan beserta harta dan keluarga mereka. diantara keluarga kerajaan yang berhasil ditumpas itu, ada yang survive dan terus menyimpan dendam untuk membalaskan dendam keluarga dan kerajaan mereka.

Mereka yang survive ini berawal dari kerajaan Tian Xia, dipengembaraanya selalu membawa dendam, bersama kekasihnya, mereka berdua berlatih demi menguasai jurus pedang tiada banding, dengan itu mereka bisa melawan, menerobos tembok kerajaan Qin Shi Huang dan membunuh kaisar yang lalim tersebut. Karena kehebatannya itu, nama mereka menjadi sangat legendaris dan disejajarkan dengan para pendekar tangguh yang hidup di zaman itu, masing-masing pendekar ini memiliki pedang yang sangat kuat dan tangguh. Kaisar Qin, sudah sejak lama ingin menguasai dan menaklukkan semua pendekar kuat, dan ingin memuaskan ambisinya dengan mengumpulkan semua pedang kuat ada yang pada waktu itu.

Oleh karena itu dia mengutus pendekar terbaik dari pasukan kerajaannya untuk mencari dan membunuh para pendekar kuat itu. Pendekar ini tanpa nama, begitupun dengan pedangnya. Dalam pencariannya dia bertemu dengan pendekar-pendekar tangguh yang melegenda, dan dengan keahlianya dan kekuatan memainkan pedang, dia mampu “mengalahkan”  pendekar-pendekar itu. Ternyata kekalahan pendekar-pendekar legenda itu, bukan dikarenakan mereka kalah ahli dari pendekar utusan kaisar ini, tapi karena mereka tahu bahwa “pendekar tanpa nama” ini, mempunyai misi terselubung, misinya adalah ingin membunuh kaisar yang telah membumihanguskan kerajaannya dulu, dengan membunuh semua pendekar-pendekar lengenda yang ada, dan membawa pedang-pedang tangguh itu sendiri ke depan kaisar. Dia mempunyai kesempatan itu.

Mengetahui misi itu, pendekar-pendekar legenda itu, menitipkan mandat kepada pendekar ini, karena pendekar-pendekar legenda itu sudah sejak lama ingin membunuh kaisar itu tapi tidak berhasil karena kekuatan mereka tidak cukup untuk menerobos barikade pengawal kerajaan. Mendengar misi yang sama itu, mereka lebih memilih kalah terhormat asalkan perjuangan mereka ada yang meneruskan.

Pendekar tanpa nama, ini akhirnya menemui dua ahli pedang dari Tiang Xia tadi, pertemuan mereka pun disampaikan dengan santun dan mengajak bertarung untuk merebut pedang mereka masing-masing. Dalam peragaan keahliannya di depan pasangan ahli pedang dari Tiang Xia ini, “pendekar tanpa nama” ini menceritakan hal yang sama, karena kekagumanya mereka ingin mengetahui apa nama jurus pedangnya. Dia menyebut, jurus pedang sepuluh langkah. Ia pula telah mempelajarinya selama sepuluh tahun demi untuk menguasai jurus itu. Rupanya sepuluh langkah adalah jarak dekat dia dan kaisar bila bertemu di istana nanti.

Dari pertemuannya itu teryata dia bukan orang pertama yang mempunyai misi membunuh kaisar Qin itu, Pasangan pendekar ini ternyata sudah melakukannya, namun pada saat hendak memotong leher kaisar, ia tidak melakukkannya. Dia memilih untuk mengurungkan misinya membunuh kaisar.

Lalu pendekar ini pun bingung, ada apa gerangan? Jawabannya ada pada jurus pedang yang dikuasainya. Jurus ini hanya bisa dikuasai kalau telah mampu menuliskan 20 cara, sebelumnya banyak pendekar hanya mampu bisa dituliskan dengan 19 cara, tapi pendekar dari Tiang ini mampu menuliskan cara ke 20. Dan disitu dia menemukan puncak dari semua jurus pedang. puncaknya Adalah menyerah. Dalam kebimbanganya tersebut akhirnya pendekar tanpa nama ini menemui kaisar dengan membawa semua pedang yang dimiliki oleh pendekar-pendekar legendaris itu. Untuk yang terakhir mereka juga melakukan trik untuk mengelabui para bala tentara kaisar yang menyaksikan perarungan itu bahwa dia telah membunuh pendekar dari Tian Xia ini.

Di depan kaisar dia menceritakan segala hal yang ia lakukan dalam perjalanan, mulai dari membunuh para pendekar, dan pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh para pendekar legendaris tadi kepada kaisar ini. Pesannya adalah puncak dari segala kehebatan, juga puncak tertinggi dari jurus pedang itu adalah menyerah. Menyerah tidak berarti takluk atau kalah, tapi menyerah untuk kemenangan sejati. Kemenangan itu adalah perdamaian untuk seluruh kekaisaran di daratan Cina.

Akhirnya jurus sepuluh langkah yang ia pelajari tadi pun dikeluarkan untuk membunuh kaisar itu, dengan sekejap pedangnya menyentuh tubuh kaisar. Kaisar pun kaget, kemudian perlahan-lahan ia tidak merasakan apa-apa. Ternyata ujung pedang yang dia pakai tadi tidak ditusukkan pada kaisar melainkan belakang pedang. Pendekar tanpa nama ini akhirnya mengerti dendam, kebencian yang ia dan pendekar-pendekar legenda lain miliki itu tidak akan menghentikan peperangan di daratan Cina. Kumudian pendekar tanpa nama ini pun berbisik, yang bisa menyelamatkan rakyat Cina dari peperangan itu menuju pada kedamaian sejati hanya lah kaisar, dengan begitu Cina akan bersatu.

Kemudian pendekar tanpa nama itu, keluar dari ruang kaisar, dan dengan rela ia, mengorbankan dirinya untuk dihukum karena telah berencana membunuh kaisar. The Last, kaisar itu pun sadar dan dengan segenap wilayah kekuasaan yang meliputi seluruh daratan Cina, ia satukan kedalam suatu dinasti yang bernama Qin diambil dari nama kaisarnya Qin Shi Huang. Tidak lama kemudian peradaban muncul di negeri ini. Sekarang kita bisa melihat peninggalannya berupa Tembok Raksasa Cina dsb dan menjadi salah pusat peradaban dunia yang maju pada zamannya.

Di sini saya melihat kadangkala untuk mencapai suatu paripurna, kedamaian, kemenangan sejati  meski memakan korban tidak sedikit, kita harus merelakan semua ego, dendam, ambisi, selanjutnya bersama-sama membangun negeri dalam kekeluargaan dan keadilan menuju kesejahteraan bersama.

Salam

by Umaee

Menatap DKI Jakarta Baru & Demokrasi Kita

Asumsi elit politik, satu persatu mulai berguguran, selama ini mereka menganggap diri sebagai manusia paling berkuasa di negara ini, bagaimana tidak, mereka dengan kendaraan politik berupa partai politik mampu mengenggam kekuasaan atas rakyat, karena itu pula mereka dapat berbuat sesuka hati, kecenderungan selama ini adalah memuaskan nafsu diri mereka, meskipun dil ain pihak abai, menyengsarakan rakyat. Menurutku ada jurang yang sangat besar antara elit politik dengan masyarakat. Memang walik/elit politik yang duduk memperjuangkan nasib rakyat dipilih melalui mekanisme demokrasi yang diadakan berkala. Berbagai janji di ucapkan. Tapi setelah itu hampir tidak ada yang begitu signifikan mengubah rakyat, setidaknya seperti yang kita saksikan seperti sekarang ini.

Angin perubahan itu akhirnya datang juga, pada saat ini, sebagaimana terjadi pada persta demokrasi pada pemilihan Cagub DKI Jakarta. Terpilihnya Jokowi-Ahok mengalahkan Foke-Nara adalah representasi dari begitu lemahnya parta politik dalam mewadari kepentingan publik. Lihat saja basis dukungan, partai penyokong yang ada dibelakang mereka. Partai-partai besar seperti Golkar, Demokrat, PPP, PKS, PAN, PKB, dan Hanura berada di pihak Foke-Nara, sementara Jokowi-Ahok cuman didukung oleh dua partai yaitu PDIP dan Gerindra. Ternyata dari hasil Quick Count yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey, semuanya memenangkan Jokowi-Ahok. Continue reading

Damai menyikapi “Innocence of Muslims”

Ilustrasi

Paradigma memang tidak pernah terlepas dari peristiwa-peristiwa yang tiap hari kita temui, sapa, cermati dan perhatikan. Dia hadir dengan segala informasi-informasi yang datang dari berbagai arah, dari berbagai belahan dunia. Akhir-akhir ini masyarakat dunia yang melek informasi, karena ada juga yang tidak pernah mengikuti perkembangan berita. akan mendapati berita mengenai film “Innocence of Muslims”. Kira-kira bercerita mengenai sosok nabi Muhammad SAW sebagai orang yang Idiot, Badut dll, yang mana segala sifat-sifat tercela dilakukannya. Bagaimanakah dalam menyikapinya?

Orang Muslims tentu saja gejam, marah, mengutuk film ini, karena kami yakin Nabi Muhammad tidak boleh digambarkan dengan bentuk apapun, sebagaimana pula waktu semasa ia hidup mengingatkan kepada umatnya untuk tidak mengambarkan dirinya. Ia takut jangan sampai dirinya dijadikan sebagai berhala yang disembah, dengan kata lain akan menyekutukan Allah SWT sebagai Zat yang Maha Agung. Menurutku tiadalah satu benda pun di bumi ini yang bisa dijadikan simbol, karena kemuliaan Belia sungguh sangat tinggi dibanding semua hal di dunia ini.

Menyikapi film ini saya tidak mau terjebak pada aksi brutal, mengacaukan, membakar-bakar fasilitas orang lain, atau sampai membunuh orang-orang yang tidak ada sangkutpautnya sebagaima sering diberitakan di media akhir-akhir ini. Saya yakin Islam itu disampaiakan kepada umat manusia sebagai “Rahmatan lil aalamin” rahmat bagi sekalian alam, oleh karena itu dia tidak membedakan budaya, suku, negara, bahkan agama untuk mengambil khazanah ilmu kedamaian padanya. Walaupun ada beberapa ayat dalam Al Quran dan Hadist menyiratkan ada Indikasi kekerasan. Saya melihat itu hanyalah berlaku pada konteks turunnya ayat dan keadaan di masa perjuangan Rasul dulu. Selanjutnya ketika Kemenangan dan situasi damai terjadi di dalam negara, sedapat mungkin isu-isu perpecahan atas nama agama, dihilangkan dengan mengedepankan Kedamaian sesama umat manusia. Continue reading

Menjaga Garis Perjuangan

Untuk kesekian kalinya, kudapati diriku berkontemplasi menyaksikan kerumitan-kerumitan, ketidakadilan, kekacauan sistem, kesewenang-wenangan, penindasan, tipu-menipu dsb. terjadi dimasyarakat kita. Banyak yang bertanya apakah ini sudah memang proses kehidupan sehingga hukum rimba yang kuat mengalahkan yang lemah tidak bisa lagi dirubah. Adakah yang menyadari itu? Adakah kelompok yang mencoba membongkar, menerobos dan meruntuhkan hukum itu? Aku masih percaya seorang, kelompok itu masih hidup, dan berdenyut meneriakan perlawanan di sana.

Materiailsme historis ala Marx, bahwa ide itu tidak absolut menentukan realitas sosial masyarakat sebagaimana pendapat kritiknya pada Hegel, dengan demikian  masyarakatlah yang menciptakan ide itu, kira-kira menemukan realitasnya disini, sekarang ini, selain itu sejarah pun mengejawantahkan teori itu, dengan banyak kita lihat perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh kumpuplan orang-orang dalam satu visi besar, dipayungi satu gerakan bersama, dengan basis gerakan yang kuat mampu melululantahkan pertahanan baja para status quo. Continue reading

Sampang Dalam Konflik Agama Dan Kekuasaaan

Ilustrasi

Kembali lagi, catatan ini akan membahas perihal tentang diskusi yang tiap minggu digelar oleh MAP Corner. Diskusi kali ini merupakan diskusi pertama setelah libur puasa dan lebaran beberapa bulan yang lalu. Ada yang menarik, terutama ketika saya datang ke ruang diskusi tersebut. Ternyata ada banyak perubahan yang dilakukan oleh panitia diskusi. Saya melihat kursi yang digunakan sudah berubah, yang lama menggunakan kursi rotan dialasi busa sekarang menjadi kursi sofa hitam, begitupun dengan meja, ada perubahan dan tambahan empat meja baru. Dan samua ini memang saya rasakan makin mendukung suasana kondusif dan hidmat jalannya diskusi.

Baiklah saya akan membahas inti dari catatan ini. Tema diskusi kali ini adalah “Sampang Dalam Konflik Agama dan Kekuasaan” dengan narasumber mendatangkan Zainal Abidin Baqir yang saat ini menjabat sebagai Ketua Prodi CRCS (Cross Religion and Cultur Studies) UGM atau studi lintas agama dan budaya. Pemilihan pak zainal ini juga tepat karena beberapa saat yang lalu dia juga sebagai saksi ahli yang dipanggil oleh Kepolisian untuk menjelaskan fenomena yang sebenarnya terjadi pada konflik Sampang baru-baru ini.

Mengawali presentasinya pak zainal mencoba menjelaskan UU Penodaan Aagama yang dibuat tahun 1965 sebagai suatu produk undang-undang yang sering digunakan untuk menyelesaiakan persoalan yang erat kaitannya dengan perbedaan agama dan keyakinan. Seperti yang terjadi belakangan ini terutama pasca reformasi ada kenaikkan signifikan dari pada kekerasan berlatarbelakang agama, data yang disebutkan oleh pak zainal sekitar sepertiga masa reformasi, jumlah kekerasan atas nama agama sama dengan waktu pertama kali UU Penodaan Agama ini dibuat sampai reformasi terjadi. sehingga bila ini terus dibiarkan maka ditahun-tahun berikutnya poternsi kekerasan atas nama agama terus meningkat. Continue reading

Menemukan Pahlawan Sejati Kehidupan

 ImageMendapatkan passion seringkali membutuhkan waktu lama dan kerja keras serta perenungan mendalam. Dia tidak hadir dengan sendirinya, dia hadir kadang tidak diduga, dia hadir kadang dalam peristiwa-peristiwa kecil yang sangat penting, mengena dalam hati, dalam satu atau beberapa peristiwa kehidupan. Ada ragam passion yang bertebaran di dunia ini bila kita mencermati. Tapi apakah kita akan memilih semuanya? Tentu tidak. Manusia itu unik, tapi diantara banyak keunikkannya itu selalu ada satu hal yang paling disukainya. Selalu ada passion yang paling disenangi untuk digelutinya.

Mencari jadi diri adalah salah satu jalan menuju kesana. Pencarian ini dalam perjalanan hidup kebanyakan kita, kita dapati sejalan dengan penempuhan kita dalam suatu pendidikan. Walaupun tidak menepis ada di luar pendidikan kita bisa menemukan ia. Pendidikan pun tidak sesimpel itu, banyak ragam pula ada di sana. Di dalam pendidikan ada ilmu pengetahuan yang dipelajari. Pada titik akhir semunya itu bermuara pada makin bijak dan arif nya kita dalam menjalani kehidupan ini. Continue reading