Pelajaran Kehidupan Mesti di Renungkan

Pak Uso lili begitulah dia dipanggil pelangganya. Bapak yang bekerja sebagai penjual buah-buahan, sayur yang selalu berkeliling kampung demi menjajakan jualannya kepada warga disekitar dia tinggal. Beratus-ratus meter jalan yang dia lalui, setiap pelosok-pelosok lorong, melewati titian-titian rumah tetangga dia lakukan demi untuk mencari pembeli yang ingin membeli jajanan yang dia tawarkan. Keringat bercucuran, wajah kusam terpaan sinar matahari tampak bila memandangnya. Senyum simpul, menampakkan gigi agak kekuning-kuningan dengan perangai akrab kepada siapasaja. Semua itu dilakukannya untuk menyambung setiap tarikan napas dia dan keluarga kecilnya untuk bertahan hidup di kerasnya kehidupan yang fana ini.

Kuterkesima, sedih, membakar jiwa sekilas, kutak henti-henti menatap nanar setiap scene dari gambar dan cerita-cerita keluarga kecil ini di sebuah acara salah satu stasiun TV Nasional. Ke berguman dalam hati Tuhan memang adil selalu menciptakan adegan-adegan kehidupan yang tak tahan untuk menitikkan air mata bagi yang melihatnya dan mengutuk kuat para bedebah kaya, angkuh dengan harta mewahnya. Aku pun malu, bila membandingkan usaha, kerja keras pak Uso mencari rezeki yang telah digariskan Tuhan itu kepadanya. Apakah yang telah kubuat untuk sekedar mengisi hari-hariku dengan melakukan suatu hal bermanfaat bagi sesama manusia.

Ku pandang garis-garisan gerutan wajah di pak Uso ini, mengingatkanku kepada kedua orang tuaku yang selama ini juga melakukan segala hal, energinya habis, suaranya menjadiparau, menahan panas terik matahari, rela dicaci untuk mencari pendapatan demi untuk menginginkan nafkah yang diperuntukkan bagi kehidupan anak-anakmu termasuk diriku. Engkau berpacu dengan kuda besi tua yang umurnya hampir sama dengan saya, engkau rela terguyur hujan, berjalan kaki berkilo-kilometer demi tanggung jawab yang diberikan oleh negara kepadamu.

Semua itu kalian patuhi tanggung jawab penuh dan hendak memperoleh pendapatan dari kerja halal yang kalian lakukan. Aku anakmu ini, bila mengingat cerita kalian, juga bila ingat persaksian mata di waktu kukecil merasa malu, tak berarti apa, hanya bisa memberatkan kalian berdua. Kini usia-usia pensiun telah terbayang didepan mata. Tapi kalian selalu memperlihatkan sikap optimis itu kepada kami anak-anakmu bahwa kelak kalian akan tetap bersama ibu-bapak, terpenuhi kecukupan hidup walaupun kalian belum bekerja, atau sedang mencari pekerjaan.

Ibu-Bapak kalian sangat berarti bagi anak-anakmu, tidak sedikitpun kudengar kata-kata menuntuk anak-anakmu untuk berprestasi, walaupun aku tahu dalam hati kalian berdua menuntut itu semua dari kami anak-anakmu. Kalian mungkin tidak rela pada kami yang lemas, malas, bengis ini menjadi melawan padamu sehingga semua itu kalian tidak lakukan hanya karena tuntutan kalian, saya tahu itu semua adalah kasih sayang mengalahkan segala hal tuntutan-tuntutan prestisius.

Padahal didalam lubuk hati kalian berdua tersimpan harapan, kelak melihat anakmu menuju gerbang kebahagiaan tertinggi, dan dengan itu pula kalian akan BANGGA. Aku tahu bangga itulah yang kalian inginkan tapi sadarkah kami. Aku sendiri menginginkan itu segera terwujud dan kuwujudkan dengan apa yang kulakukan. Aku ingin harapan itu segera tercapai.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s