Ilmu Sosial Sebuah Keharusan

Jangan lah pernah mencoba mengukur, menerka atau mengira-ngira dalamnya air laut dengan mata kepalamu sendiri tanpa kau masuk kedalamnya untuk kau buktikan sendiri. Adagium ini sangat cocok dengan pandangan saya akan ilmu-ilmu sosial. Mulanya saya kira ilmu-ilmu sosial semisal sejarah, sosiologi, antropologi, ilmu budaya dsb. Tak ubanya ilmu yang mengarahkan kita dengan benar untuk memahami masyarakat, maka kupikir kenapa meski kita belajar ilmu-ilmu sosial toch kita yang sepanjang hidup kita ada dalam masyarakat dengan begitu akan sangat mudah kita pahami fenomena-fenomena masyarakat kita sendiri. Ternyata  angapan itu merupakan satu dari sekian banyak bahasan ilmu-ilmu sosial.

Bersyukur saya hidup dalam lingkungan dan berinteraksi dengan mereka yang pelajari ilmu ini. Dari beberapa interaksi dan diskusi-diskusi. Saya banyak mendapatkan pencerahan dan khasanah-khasanah pengetahuan terutama berkaitan dengan pengembangan diri yang tak kutemui di ilmu eksakta yang saya temui.

Mereka itu adalah pertama, ilmu sosial banyak mempelajari kecepatan perubahan masyarakat dan faktor-faktor apa saja yang mendukung terjadinya perubahan tersebut. Ini mengajarkan kepada individu juga diharuskan mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Dengan demikian sikap tanggap, cekatan, berpikir cepat menjadi syarat utama dan inilah yang dibutuhkan oleh para perintis perubahan (Leadership).

Kedua, ilmu sosial yang karena sifatnya dinamis atau tidak tetap menjadikan setiap bahasan atau kesimpulan atas suatu fenomena tidak jadi mutlak mengambil kesimpulan yang sama dengan peristiwa yang sama di masa mendatang. Pemahaman demikian ini banyak digunakan untuk kalangan-kalangan tertentu misal politisi untuk tidak mudah percaya pada suatu hal (kadang2 dipakai untuk berapologi dalam debat)

Ketiga, ilmu sosial bisa digunakan untuk melihat tidak sekedar fakta-fakta yang ada melainkan juga melihat lebih dalam apa yang belum terungkap dan itu bisa dijadikan preseden, model untuk membuat prediksi-prediksi –kalau di ilmu eksakta ini hanya terlihat dalam angka-angka, kurva atau tabel-tabel – atas kecenderungan masa depan.

Keempat, Ilmu sosial berperan besar memfasihkan pembelajar-pembelajarnya untuk berbicara, berkomunikasi, berdialog, diskusi, berdebat tetang suatu masalah tertentu. (karena kecanggihan skill ini kadangkala yang benar bisa disalahkan ataupun sebaliknya yang salah bisa dibenarkan, sangat berbeda dengan kebanyakan pembelajar eksakta selalu kaku bila dihadapkan pada dilema-dilema antara penagkapan dirinya atas suatu yang salah dengan memberontak dengan mengungkapkan gagasan yang ada dibenaknya tersebut)

Kelima, ilmu sosial menjadi modal utama untuk menjadi seorang pelopor perubahan (pemikir)

Sekarang jelaslah, tidak ada waktu untuk tidak percaya lagi akan keunggulan ilmu sosial diatas ilmu eksakta. Namun tidak berarti dengan menguasai itu akan berhasil seratus persen, tidak ilmu eksakta kadang-kadang menjadi senjata pamungkas menangkan segala macam absurditas logika, argumentasi karena didalamnya ada ilmuwan yang berbeicara dengan data-data, mereka memandang suatu fenomena berdasarkan pada kenyataan-kenyataan yang ada, dianalisis dengan suatu penelitian ilmiah yang berdasarkan pada bukti empiris. Seperti orang filsafat bilang ilmu pengetahuan adalah penganut filsafat empirisme dan positifistis, artinya dapat diketahui dengan menggunakan panca indera ditambah lagi mempunyai ukuran-ukuran yang disepakati.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s