Rekonstruksi Buton Kontemporer

Buka puasa pada hari ke 12 Ramadhan terasa spesial karena disitu menjadi pertama kali saya berdiskusi dengan kawan-kawan asal Buton di Jogja membahas situasi tekini dan merumuskan usaha-usaha untuk mengembangkan Buton mendatang. Ini pula realisasi dari beberapa saat yang lalu kami rencanakan untuk bertemu. Membahas isu-isu buton terkini tidak bisa dilepaskan dengan konstelasi politik yang sedang berlangsung dimasa sekarang ini. Sehingga wacana diskusi banyak mengarah pada penguatan falsafah buton dengan menggali dan membongkar kembali kejayaan dan runtuhnya kesultanan masa lalu dan pembentukan kembali lembaga kesultanan Buton dimasa kini.

Sedikit yang saya bahas di tulisan ini  ialah tentang kesultanan buton masa kini. Ada keanehan, keganjilan yang luarbiasa terjadi di tanah kelahiranku tersebut. Pertentangan antara sesama anggota masyarakat seakan tidak pernah usai. Buton sebagai tuan rumah penyelenggaraan FKN (Festival Keraton Nusantara) dituntut mempunyai kesultanan yang eksistensi dan diakui oleh bukan hanya pemerintah melainkan juga masyarakat buton itu sendiri. Dengan demikian dengan sangat cepat dan tak memerlukan pertimbangan yang matang maka perangkat kesultanan buton yang dulu telah vakum kembali di bentuk dan orang-orang dengan jabatan sebagaimana struktur kesultanan pun tak luput untuk dipilih kembali.

Terpililah La Ode  Muhammad Djafar, sebagai sultan ternyata tidak memuaskan semua masyarakat. Ketimpangan itu dikarenakan sultan ini bukan merupakan satu-satunya sultan yang dilantik dan diakui oleh masyarakat Buton. Sebelumnya telah ada dua sultan yang diangkat dan dikukuhkan oleh pemerintah sekarang ini. Pertama, sultan yang dilantik berdasarkan SK kementerian Pariwisata, dan Kedua, Walikota Bau-Bau yang menyebut dirinya Lakina Wolio/Pemimpin Buton/sultan Buton.

Oleh karena itu, ini juga salah satu tantangan yang harus dicarikan solusi dan dijawab oleh masyarakat Buton yang ingin berubah kepada kesatuan wilayah yang sempat hancur dan terpisah-pihan seperti sekarang ini.

Jujur baru pada saat diskusi ini saya banyak mengetahui hal baru tetang Buton itu, baik itu pada masa lalu maupun mada masa kini. Sebelumnya paling banter hanya mendengar dari orang tua dan kakek saya sendiri itupun tidak banyak hal yang sempat kugali, karena saya terlanjur untuk terus melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi yaitu universitas di kota lain beberapa tahun, dan sekaligus menjauhkan saya dengan masyarakat Buton ditempat saya lahir.

Perlahan kumulai tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai sejarah buton. Alhamdulillah atas rekomendasi dari salah satu teman fisipol yang sempat membaca tesis mengenai Buton diperpustakaan CESAS UGM. Mulailah saya pergi untuk melihat dan membaca tesis tersebut. Secara umum juga menambah sedikit kehausan pengetahuan tentang Buton yang ingin kuketahui.

Islamisasi, Kolonialisasi, dan Sinkrenisasi Agama di buton pada tahun 1800-1900 an adalah judul tesis ini. Dituliskan dalam tesis tersebut tidak hanya Islamisasi melainkan juga hal-hal yang melingkupi Kesultanan buton yaitu perihal mengenai wilayah kekuasaan, Struktur pemerintahan, Undang-undang kesultanan buton, karya-karya sastra para punjaga-punjaga buton, dan studi-studi ilmiah mengenai diaspora kebudaan jawa, hindu, budha dan juga pengaruh interaksi dengan suku-suku lain yang berada di wilayah nusantara bagian barat dan timur.

Kebudayaan Buton sebelum masuknya Islam banyak dipengaruhi oleh kebudayaan animisme dan dinamisme, beberapa nash seperti “kitab kertagama” – kitab yang ditulis pada saat masa kekuasaan Majapahit- juga pernah tertuliskan adanya suatu kerajaan dibagian timur Indonesia yakni kerajaan buton. Ini menunjukan kebudayaan buton pernah berinteraksi dengan kebudayaan majapahit yang kental dengan tradisi hindu budha. Dengan demikian di buton kita dapat melihat jejak-jejak kebudayaan hindu budha tersebut misalnya pakande kwialu (memberi makan tikar), sangia (gurita besar), Jin (Jini) dsb.

Sementara kebudayaan asli buton itu adalah campuran kebudayaan china, melayu, arab, mongolia yang merepresentasikan pendiri awal kerajaan buton itu sendiri yang lebih dikenal dengan mia patamiana (si panjonga, si jawakanti, simalui, dan si sitamanajo) yang kemudian berumbun memilih seorang ratu dan juga merupakan ratu pertama di kerajaan buton yang bernama Ratu Wa ka ka.

Diperkirakan terbentuk pada awal abad ke 11, berturut-turut kemudian dipimpin oleh seorang raja dan pada saat raja kelima masa kekuasaan raja mulae (sultan murhum) kerajaan buton diubah menjadi kesultanan buton yang otomatis mempraktekan syariat islam berlaku diwilayah kekuasaan. Pada sultan ke tiga, sultan er langga dibentuklah dasar-dasar kesultanan buton yaitu martabat tujuh, sarana kadie, sarana adati, sarana hukumu dan seterusnya.

Dari sistem pemerintahan, kesultanan dipimpin oleh seorang sultan kemudian secara koordinasi setara dengan 9 bonto ogena. Kesultanan mempunyai 4 daerah otonom, 30 kadie dan 72 limbo, sementara diwilayah pertahanan disebut juga matana sorumba terdiri dari 4 utara, selatan, barat dan timur. Dalam stara sosial juga terdapat Kaumo (kaum bangsawan pewaris para sultan), walaka (kaum menengah, menempati dewan2 kesultanan), papara (rakyat jelata) dan bathua (budak).

Di masyarakat buton pun menganut sistem filsafat yang dikembangkan oleh para tetua-tetua terdahulu, falsafah itu adalah bholimo karo somanamo lipu, bholimo lipu somanamo adati, bholimo adati somanami agama, kemudian diturungkan kedalam sifat sosial menjadi po bhinci bhinci kuli yang terdiri dari po angka ngatakaka, po ma masiaka, po pia piara, poma maeka.

Dari segi Islamisasi kesultanan buton banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Islam yang masuk di nusantara pada masa itu, kebanyakan dari kitab-kitab tersebut adalah tasawuf sehingga kesultanan buton pun banyak yang menganur islam ke arah tasawuf. Masa kejayaan kesultanan buton terjadi pada masa kesultanan sultan muhammad kaimuddin pada abad ke 19.

Runtuhnya kesultanan tersebut terjadi pada masa sultan falihi, sultan husein dan sultan aliy, dengan penandatanganan perjanjian dengan belanda berisi pengahuan atas kolonialisasi dan pengakuan atas kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda atas seluruh wilayah kesultanan buton pada tahun 1906. Sebenarnya ada usaha-usaha/gerakan-kerakan sosial dari rakyat untuk melawan pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu, sebut saja la balawa, matagawa, papului dan ada beberapa lagi. Hanya saja tidak berdaya melayan kolonialisme belanda.

Dengan waktu yang sangat lama itulah kini generasi Buton mulai menata ulang puing-puing kesultanan yang sempat porak poranda itu, harapanku adalah dengan berdirinya kembali kesultanan buton, sendi-sendi masyarakat buton, falsafah-falsafah buton yang pernah dianut oleh masyarakat menjadi basik berpijak dan berperilaku masyarakat buton sekarang ini yang mana telah banyak diperngaruhi oleh akibat buruk modernisme dan globalisasi. Itulah yang lagi di rintis oleh generasi muda buton disini berawal dari Jogja.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s