Traveling to Gede Kauman Mosque

Dua hari yang lalu, tepatnya hari ke 10 Ramadhan, saya menyempatkan diri pergi ke Masjid Gede Kauman untuk wisata rohani dan menikmati buka puasa bersama dengan aneka takjil disertai ceramah agama dalam menanti saat-saat berbuka puasa. Ini pula kulakukan guna memuaskan atau menjalankan hasrat yang diawal puasa telah saya niatkan.

Daya tarik Masjid Gede Kauman ada banyak, menggunakan analisis dialektis historis karya marx dengan skope kauman bisa terlihat bahwa daerah kauman ini mempunyai history sejarah yang melegenda dan merakyat karena jasa-jasanya dalam mempertahankan tanah air dari gempuran kolonilisme Belanda. KH. Ahmad Dahlan adalah orang yang mendirikan pondasi dasar kampung ini, disinilah ajaran Kiyai ini pertama kali disebarkan sebelum melalangbuana keseantero jagat.

gede kauman mosque

gate of village

Lazimnya kampung islam, kauman dibangun beraneka ajaran fundamental dan simbol-simbol yang menegaskan adanya kekuatan islam didalamnya, ajaran fundamental itu adalah ajaran yang rutin dan selalu disampaikan oleh KH. Ahmad Dahlan, sementara simbol-simbol itu adalah adanya masjid, susunan rumah-rumah kampung yang berjejer, berhimpitan satu dengan yang merupakan  melambangkan keakraban dan persatuan yang kuat diantara sesama warga kampung.

Fase berikutnya kekuatan yang telah dibangun dengan kuat tadi menjadi tameng atau pelindung, pun digunakan sebagai tempat menyusun strategi dan muslihat dalam memerangi Belanda pada waktu itu, disalah satu bagian dari kampung ini kita akan melihat bukti sejarah dengan menemukan kuburan masyarakat yang sahid dalam perang melawan penjajah.

Kemudian masa kini, dimana kampung ini menjadi cerminan masyarakat islam jawa yang masih dipertahankan suasana keislamanya dalam bentuk ditetapkannya batas-batas wilayah dengan pagar-pagar yang mengelilingi kampung, ada juga deretan rumah-rumah yang saling dempet-dempetan satu sama lain. Akibat modernitas pun tidak diperbolehkan masuk dikampung ini, swalayan, mol tidak diberikan izin dibangun dikampung ini, begitupun juga dengan suasana hening, dijaga dengan melarang kendaraan bermotor dinyalakan ketika berada dalam wilayah kampung, juga larangan bagi pengamen untuk mengamen di dalam kampung ini, sehingga tak heran bila kita akan melihat larangan yang ditulis dilorong-lorong masuk dan tembok-tembok dimana-mana.

Begitulah kauman mempertahankan diri dari serbuan modernitas – modernitas merusak tapi tidak menolak segala sesuatu modernitas yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah aktifitas warga kauman- namun tetap menjaga orisinal dan tradiosionalis islam jawa.

Kembali lagi ke masjid, masjid gede kauman dibangun syarat akan nilai-nilai filosofis Islam dan budaya lokal. Dari segi bentuk dan posisi bangunan masjid. Dari atas, atap didesain bertingkat-tingkat dan ini terlihat kuat adanya pengaruh kebudayaan jawa pada waktu itu, dari dalam masjid kita akan melihat deretan tiang-tiang yang menopang kubah, ada sekitar 30 tiang besar dengan bonggolan kayu hitam yang disusun berderet-deret dengan dua tiang panjang tinggi melunjang ketas di tengah-tengah masjid. Aneka-aneka hiasan, ornamen pun ada didalam masjid, kelihatannya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan timur tengah.

Disamping itu pula masjid ini digunakan sebagai simbol kekuasaan sultan Yogyakarta atas agama –kesultanan jogja tidak hanya kuasa atas pemerintahan dan wilayah kedaulatan dalam kebudayaan islam disebut Ragawi melainkan juga kuasa akan agama simbol dari Rohaniah – dan masyarakat jogja dan kauman bernaung.

Setibanya saya di masjid langsung mengambil takjik yang disiapkan dan ikut bergabung dengan jamaah lain yang sedang duduk mendengarkan ceramah sambil menunggu buka puasa. Penceramah kali ini adalah ketua PMI Yogyakarta, ia banyak berceria tentang donor darah, seperti disampaikannya donor darah sangat banyak faedahnya, juga sangat pas dengan nilai-nilai Islam itu. Nilai-nilai Islam itu ialah donor darah merupakan sebaik-baik sumbangan yang diberikan kepada masyarakat walaupun tanpa mempunyai harta atau uang untuk disumbangkan, donor darah pula akan senantiasa menjadikan tubuh sehati bagi pendonornya, dan disitu pula bisa dipastikan pendonor darah akan senantiasa terhindar dari penyakit HIV, Hepatitis, Gonorhoe, Sifillis dan aneka penyakit menular lain. Kaitanya adalah ketika keinginan kuat untuk mendonorkan darah itu sudah ada maka segala sesuatu yang menyebabkan darah kita terkontaminasi oleh bakteri atau virus sedapat mungkin dihindari tak terkeculai perilaku-perilaku bebas yangberpotensi terinveksi

Kriteria pendonor darah, untuk laki-laki baik mendonor pada umur 18 sampai 60 tahun, berat badan minimal 50 kg dan tekanan darah normal 110-120/70-80 mmHg, sementara perempuan tiga kriteria sebelumnya sama dengan beberapa pengecualian kondisi, yakni tidak diperbolehkan mendonor pada saat Laksatif (menyusui), hamil dan masa menstruasi. Tak lupa penceramah memotivasi para jamaah supaya rajin mendonorkan darahnya, serta hadiah kehormatan bagi siapa saja yang mendonorkan darahnya lebih dari 100 kali maka akan berkesempatan mendapat satya lencana yand diberikan oleh presiden secara langsung di istana negara.

Suasana ceramah pun diberikan kesempatan kepada para jamaah untuk bertanya, dan kebanyakan dari mereka memberikan pengalaman-pengalaman baik ataupun buruk selama berdonor darah. Suasana alot diskusi terhenti dengan bunyinya alaram dan kumandan tanda waktu berbuka puasa sudah tiba. Dalam hati ku berguman alhamdulillah atas nikmat yang kau berikan hari ini, kesempatan sehingga satu lagi hasrat yang ingin kuwujudkan terwujud.

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s