Mutiara di Mulut Buaya

Hari ke 9 puasa, bertepatan juga dengan malam minggu, niat untuk mengisinya dengan santai mengerjakan hal-hal yang ringan menonton TV, keliling kota sekedar untuk memanjakan mata dengan melihat aneka panorama, kanvas-kanvas kehidupan lain setelah semingguan melihat dinding dan buku-buku bacaan di perpustakaan dan di kos sendiri berubah total ketika ada sms dari kawan-kawan sesama masyarakat Sulawesi Tenggara untuk mengadakan buka puasa bersama dan termasuk yang diundang adalah S0, S1, S2, dan S3 kira-kira begitu teks yang tertera dalam sms tersebut.

Agak aneh dan ngelitik memang tapi lebih mendingan ketimbang menuliskan “segenap warga masyarakat sulawesi tenggara tak terkecuali”. Mungkin analisis lain teks tersebut digunaan supaya terkesan ada aroma akademis – Kota Yogyakarta disebut juga kota pendidiakan sehingga segala hal yang  dilakukan di kota ini sedapat mungkin tidak lari dari tata krama akademik walaupun itu bukan salah satu faktor yang berbaur dalam masyarakat Iogja –  didalamnya. Segenap pertimbangan dan undangan yang menggugah memenuhi dan menyesakkan akal pikiranku maka keputusan untuk menghadiri undangan bukber itu kupilih.

Beberapa hal menjadi pertimbanganku adalah pertama, untuk pertama kalinya selama di Jogja sejauh pengetahuan saya kegiatan ini mengumpulkan seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara dalam satu acara bersama. Ini amat sangat menyenangkan karena disitu saya bisa melihat orang-orang dengan latar belakang asal daerah yang sama dengan saya di Jogja. Kedua, Dengan begitu saya bisa mengenal lebih dekat kawan-kawan yang selama ini hanya bisa berinteraksi lewat Grup Farcebook dan dengan itu bisa langsung tatap muka. Ketiga, Ternyata bukan saja kawan-kawan baru yang hadir tetapi juga beberapa dari mereka ada kawan lama yang sudah lama tidak ketemu dan ketemu lagi di tempat tersebut. Keempat, Ada rasa kebersamaan yang tumbuh dan kuat paling sedikit kebersamaan tinggal dan belajar di kota yang sama.

Motivasi dan pikiran positif terlintas kuat dibemakku dan tak sedikitpun ara rasa skeptis ataupun pikiran negatif tentang agenda lain dari acara bukber tersebut selain daripada usaha mempertemukan masyarakat Sulawesi Tenggara dalam rangka silaturahmi dan menjadikannya fondasi utama untuk merangkul para akademisi di kota ini yang nantinya bisa ikut bersama-sama menyatukan visi dan meberikan sumbangan ide dan berbuat untuk memajukkan kampung halaman.

Berubah total dari predikisi, analisis, pikiran positif semula, terutama ketika sesampainya kami di rumah makan ” Lombok Idjo” yang beralamat di Jalan Solo dekat Saphir Square. Acara yang tadinya kukira sebagai ajang silaturahim semata tanpa ada kepentingan lain akantetapi syarat akan kepentingan politik salah satu politikus Sulawesi Tenggara yang ingin menyalurkan hasratnya menjadi calon Gubernur. Kalau dianalisis secara perilaku politik, pertemuan yang diadakan itu bertendensi kuat untuk dijadikan basis dukungan dan ajang memperkenalkan diri dihadapan para akademisi Jogja yang berasal dari Sulawesi Tenggara.

Orang awan mungkin melihat tidak ada yang aneh dari acara tersebut, tapi kalau mau dilihat secara jeli maka kita akan mendapatkan nunsa politik disana. Memang acaranya hanya meberikan buka puasa bersama untuk para undangan, tak ada pidato politik, tak ada agitate terlihat. Bahkan undangan akan sangat puas karena disuguhkan makanan dan minuman gratis, namun bagi yang peka terhadap intrik politik maka akan berpikir ada hal yang bisa dijadikan pegangan untuk calon kandidat sebagai legitimasi, bargaining di depan calon lawannya atau kekuatan posisi politiknya di daerah yaitu dengan pengambilan photo para undangan selama makan berlangsung.

Bisa saja sepulangnya Ia ke daerah, bisa mengklaim akademisi Jogja seluruhnya dibawa kendali dan pendukung utama untuk menyukseskan kandidat calon gubernur tersebut. Ini pun juga akan menjadikan lawan-lawan politiknya sesama calon gubernur segan. Sebagaimana diketahui kecenderungan akademisi Jogja yang berkiprah diluar mempunya kecakapan dan keahlian pada bidang masing-masing melebihi alumni dari akademisi di luar Jogja sehingga mampu menempati posisi-posisi strategis dipemerintahan.

Yang saya sayangkan dan itu pulah lah yang saya gambarkan sebagai mulut buaya adalah tersirat saya ikut dalam politik praktis atau simpatisan salah satu kandidat calon gubernur, hal lain yaitu memakan gratis makanan dari politisi ini yang menurut desas desus yang berkembang selama acara tersebut politisi ini menpunyai latar belakang yang kurang etis dalam menjalankan bisnisnya, dengan kata lain makanan yang saya makan berasal dari sumber yang uangnya diperoleh dari jalan yang tidak seperti seharunya. Mudah-mudahan ini salah.

Alangkah senangnya ketika diakhir kegiatan beberapa akademisi yang menurut saya idealis mengungkapkan hal yang sama dengan apa yang saya kemukakan diatas dan berencana untuk membuat acara kumpul bersama di waktu dekat ini, yang pastinya tidak membicarakan mengenai dukungan atas calon tertentu tetapi lebih kepada usaha memikirkan bersama demi pembangunan, kemajuan Sulawesi Tenggara pada umumnya dan Buton pada khususnya yang lebih baik dari sekarang ini, dan ini pulalah yang saya namakan mutiara nan elok tersebut. Semoga acara ini tidak ada halangan untuk direalisasikan dan saya sendiri ikut memberikan sedikit pemikiran diacara tersebut. Amiin

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s