Munculnya Kembali Pro Anggaran Publik (Sosialime) Pasca terpilihnya Presiden Prancis, Francois Hollanda

MAP Corner pekan ini, sedikit melompat dari pakem yang biasa mereka ikuti yaitu menyajikan masalah-masalah aktual di dalam negeri atau isu-isu international, yakni peringatan hari kebangkitan nasional dengan diskursus 14 tahun pasca reformasi di Indonesia, dan isu international, terpilihnya Francois Hollanda sebagai presiden prancis menggantikan presiden sebelumnya Nicolas Sarcozy yang sekaligus menjadi pilihan topik pada diskusi kali ini.

Dipilihnya isu terpilihnya Presiden Prancis, Francois Hollanda sebagai topik diskusi MAP Corner ini, menurut analisis saya ada beberapa alasan. Pertama, Isu ini sangat dekat dengan kajian MAP Corner karena erat kaitannya dengan isu-isu sosial dalam hal ini diskursus (Bangkitnya Sosialisme Modern) yang mereka kaji di Fakultas ISIPOL. Kedua, Ketersediaan pembicara yang mengisi acara diskusi, ini bukannya dikarenakan karena tidak adanya pembicara kapabel yang bisa membahas isu-isu nasional tapi mungkin dikarenakan jadwan yang padat dari narasumber-narasumber tersebut. Analisis diatas sedikit menggambarkan latar belakang diangkatnya tema diskusi kali ini.

Pemateri yang dipilih untuk membahas isu ini adalah Eric Hiariej seorang Dosen Fakultas ISIPOL UGM, dikenal sebagai seorang yang pakar sosialime, seperti yang dikatakannya pada saat awal pembicaraanya, “saya mengakui tidak tahu banyak tentang isu-isu internasional, juga sedikit tahu tetang isu sosial demokrasi tapi TAHU BANYAK tentang Sosialisme”, saya pikir walaupun ini joke, tapi cukup menggambarkan, membanggakan dirinya sebagai seorang pakar sosialisme. Jadi tidak salalah Eric Hiariej dipilih menjadi Narasumber di diskusi MAP Corner kali ini.

Dilihat dari segi arah pembicaraan, Sedikit banyak pembicaraan mengenai latar belakang terpilihnya Francois Hollanda, dari segi swing footer, dan prediksi-prediksi arah kebijakan yang akan dia keluarkan. Terpilihnya Francois Hollanda (dari partai sosialis) , dikarenakan adanya kejengkelan psikologis terhadap presiden sebelumnya Nicolas Sarcozy  yang selama masa pemerintahannya terlalu menindas beberapa golongan dan tidak sedikit melakukan rasis terhadap etnik dan ras tertentu. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pun tidak sedikit pro terhadap Kapitalis yang terlalu condong pada pasar (privatisasi) yang dampaknya banyak meningkatkan angka kemiskinan di Prancis. Faktor lain adalah harapan akan adanya kebijakan anggaran yang akan banyak dikucurkan oleh negara untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya, karena mungkin rakyat prancis melihat Francois Hollanda mempunyai kapasitas untuk itu, karena latarbelakangnya yang seorang Birokrasi dimana diketahui sering mengeluarkan banyak dana untuk kepentingan birokrasi yang mensejahterakan rakyat.

Oleh karena itu, anggapan tentang munculnya sosialisme baru karena terpilihnya Francois Hollanda meski dicermati kembali. Pemateri kemudian mengambil beberapa contoh negara-negara yang dalam pemilihan umum juga dimenangkan oleh partai sosialis misalnya australia, Tapi pada saat berkuasa mereka akan terikat oleh kebijakan-kebijakan yang telah berjalan dan itu sangat sulit diubah – Tergabungnya mereka group uni eropa (prancis, jerman dan inggris) beserta kebijakan yang mengikatnya . Disini terlihat ada pesimisme seorang Eric Hiariej akan munculnya Francois Hollanda akan munculnya kembali paham sosialisme di era modern setelah runtuhnya penganut sosialisme lama, Uni Soviet.

Sebagai lazimnya presiden-presiden yang terpilih ditengah jepitan dua paham yang bertentangan dalam hal ini, disatu sisi mengusung paham sosialisme yang mungkin karena harapan akan adanya peran negara seutuhnya untuk menyelamatkan rakyatnya dari keterjajahan ekonomi dari kaum kapitalis liberal. Disisi lain harus berhadapan dengan Parlemen yang cenderung Kapitalis Liberal, sehingga mau tidak mau dia harus menjaga hubungan baik dengan parlemen, untuk mendapatkan anggaran dari program-program pro rakyat yang akan ia buat. Apakah itu mungkin terwujud ?

Oleh karena itu, tiada hal lain yang akan ia lakukan selain sikap pragmatisme terhadap dua kekuatan tadi. Setidaknya kesimpulan itu sudah bisa diverifikasi/dilihat dari kabinet yang ia bentuk. Mengetahui akan sulitnya kebijakan sosialis tadi muncul maka demi untuk menjaga/meredam konstituenya dari upaya menolak pemerintahanya, dia memilih meteri-meteri yang merepresentasikan kelompok-kelompok tadi, yaitu banyaknya menteri perempuan, etnis cina, dan berkulit hitam.

Kesimpulan dari diskusi ini adalah Kebijakan sosialis bila itu memang kebijakan yang awal ia ingin wujudkan akan terbentur pada Parlement yang Pro Kapitalis Liberal, Kebijakan-kebijakan, dan kesepakatan-kesepakatan yang telah berjalan (WTO, Uni Eropa, dll). Sehingga Harapan Sosialisme tadi agan direduksi menjadi Apakah Anggaran Coverage untuk Publik akan dikeluarkan, ataukah sebagian-sebagian, atau tidak sama sekali – meneruskan kebijakan yang ada ? So, waktu yang akan menjawabnya_

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s