Penyemangat-Penyemangat Ku

Terhitung Bulan ini, Usia tesisku sudah 8 bulan, kalau dimisalkan kandungan maka tinggal sebulan lagi akan melahirkan bayi. Pertanyaannya, Apakah Tesis itu telah rampung ?? Jawaban ini amat berat kurasa bila melihat progresifitas yang telah kutuliskan dan kuperbuat terhadap tesisku ini. Terbilang lambat mungkin kalau dibandingkan dengan makasiswa-mahasiswa berprestasi yang sering menjadi bintang pada saat wisuda diselenggarakan. Banyak diantara mereka menyelesaikan kuliah Post graduate tidak lebih dari 2 tahun berada dikampus. Kekaguman sekaligus itu selalau muncul dibenakku bila melihat apa yang telah mereka telah capai. Hari-hari teakhir ini kudapatkan berita tak kalah kagumku dengan peraih prestasi tingkat post graduate. Malahan lebih besar lagi rasa kagum itu, yakni berita tentang Mahasiswa Strata 3 bernama Hafizurachman yang menyelesaikan kuliahnya hanya membutuhkan waktu 1 tahun 7 bulan. Sebuah capaian yang prestisus diterohkannya.

Bolehlah prestasi-prestasi itu, digoreskan ke dalam kanvas kehidupan mereka. Lantas apakah prestasi itu pula ingin kutorehkan dalam kanvas hidupku. Entahlah? Mungkin tidak akan bisa lagi bila mengingat keberadaanku di dalam kampus sudah berjalan dua tahun lebih. Demi meneguhkan perjuanganku menyelesaikan Kuliah, saya punya prinsip. Biarlah prestasi itu diukir oleh mereka, tapi belum cukup untuk menjamin akan eksis dikehidupan setelah mengenyam bangku perkuliahan. Walaupun demikian saya tetap optimis dan meyakini dalam hati bahwa biarlah saya tidak berprestasi dikampus namun saya tidak akan kalah dengan kehidupan artinya saya akan berbuat sesuatu yang dibanggakan bila telah ke luar dari bangku perkuliahan nantinya.

Tidak ada lagi hal yang kiranya menghalangi tekatku itu. Apalagi dalam posisiku sebagai mahluk sosial yang punya saudara, keluarga, dan keluarga besar, dan juga tantangan mencari penghidupan setelah keluar dari kampus yang dengan masalah dan problem serta desakan dari mereka maka bulatlah tekatku untuk menjadi pemenang dalam mengaruhi kehidupan ini. Berikut adalah problem masalah yang kudapatkan langsung dari mereka :

  • Keluargaku (ayah dan ibu), oleh sebagian masyarakat adalah keluarga yang kuno tertinggal, dan tidak modern, karena tidak mau mengikuti perkembangan mode dan modernitas. Sebut saja berjoget ketika acara-acara pernikahan atau peringatan hari-hari besar lainnya. Pilihan menyekolahkan anak  ketimbang perbesar rumah, beli perabot rumah tangga super mewah, naik haji, beli mobil atau motor yang oleh masyarakat lain dianggapnya suatu kebanggaan yang dengan itu membuat iri orang lain. Tidak bagi mereka, pikirku inilah prinsip tekuat dan termulia yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang manusia. Toch, semuanya itu tidak akan membawa apa-apa jikalau telah meninggal. Mereka memilih untuk menginvestasikan kekayaan mereka demi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tak peduli apapun resiko cemoohan dan cibiran dari kawan-kawannya, tak peduli betapa lelahnya mencari uang, menguras keringat, memacu motor peok disaat hujan, badai, terik demi untuk melihat anak-anaknya sukses dikemudian hari.
  • Keluargaku (kakek-nenek), Didalam masyarakat kami budaya patriatri masih dianut. Sebagaimana konsep patriarti bahwa ada suatu kelompok yang mengaggap diri lebih superior dari kelompok yang lain. Ada kelas borjusi/bangsawan, ada kelas proletar/rakyat jelata. Alhamdulillah keluargaku berada pada kelas yang kedua. Kalau mau mengadu, apakah yang mau dilahirkan dikalangan proletar. Tentu tidak. Kata pembelaan ketika mereka dicibir oleh kelas bangsawan. Inilah kata yang mengiang-ngiang dalam kepalaku. Apa unggulnya bangsawan? Toch kita sudah hidup di zaman modern, dimana sistem patriatri adalah sistem yang bertentangan dengan sistem demokrasi yang ada sekarang ini.  Dalam hati saya bertekat akan membungkam mereka dengan prestasi dan usaha untuk membuktikan bahwa patriarki adalah konsep pemikiran yang salah jikalau, suatu kelas (bangsawan) lebih superior dari kelas yang lain (rakyat jelata). Kemaren sempat saya melihat ada senyum diwajah mereka ketika sekat-sekat itu telah hilang ketika menikahnya salah seorang saudara saya dengan mereka (kelas) . Namun itu tak berlangsung lama, karena ada percekcokan yang terus-menerus diantara mereka yang mengharuskan masing-masing menjaga diri dan tidak mau menerima ego masing-masing.
  • Saudara-saudaraku, Diantara mereka, sayalah satu-satunya yang diberi izin untuk melanjutkan kesekolah magister. Harapan besar tentunya menyertai perjalananku menempuh kuliah ini. Saya melihat perilaku mereka ada tersirat kebanggaan karena ada saudara mereka yang mampu melanjutkan kejenjang kuliah yang lebih tinggi. Harapan akan terperbaikinya status keluarga ada bila saya selesai nantinya. Yang melindungi mereka dari cibiran dan cemoohan masyarakat sekitar. Melindungi mereka dari pembicaraan-pembicaraan diantara mereka, artinya ada seseorang yang dekat dengan mereka yang membanggakan.
  • Cita-cita besarku, Telah kuimpikan dan kutanamkan dalam benakku bahwa ada sesuatu “big changes” bila nantinya saya menyelesaikan kuliah atau keluar dari kampus. Saya tidak ingin hanya mejalani rutinitas kuliah dengan tanpa ada sesuatu karya yang saya hasilkan. Saya ingin membuktikan pada dunia bahwa, Saya yang dari pulau tepencil dan termasuk kelas rakyat jelata juga mampu sejajar dengan mereka yang dengan kekuatan modal dan latar belakang, ditunjang dengan pembelajaran yang sistematis mampu merubah dunia.

Ku akui saya tidak mempunyai banyak sesuatu yang dibanggakan bila berbincang dan saling pamer kekayaan atau fasilitas yang mereka punya (teman-teman kuliah) . Tapi saya mempunyai tekat yang kuat, dan kerja keras yang lebih, untuk memupuk masa depan, dan meraih cita-cita sebagaimana, capaian yang telah ditunjukan oleh mereka yang saya kagumi karena tekat, usaha dan kerja keranya. Diantara mereka itu, ada Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi), Busyro Mukkodas (Ketua KPK), Dahlan Iskan (Menteri BUMN), Yudi Latif (Ketua Reform Institute), Widjajono (Wamen ESDM), Sukarno (Presiden RI Pertama), Moh. Hatta (Wakil Presiden Pertama), Dll. Lahir dari keluarga biasa-biasa tapi mempu menjadi yang luar biasa. Dari mereka itu, ingin kuserap tekat, keberanian, kerja keras, berpikir bijak dan bernas dan kutuangkan dalam pikiran-pikiran dan tindakkan yang saya lakukan hari ini, besok dan kelak.

Wahai para motivator tersembunyiku, saya tidak akan mau membuat kecewa kalian karena ulahku yang jauh dari harapan kalian, petuah-petuah, saran, dan harapan kalian akan kucampur dengan darah dan tulang-tulangku yang dengan itu, sedetikpun tak akan kulupakan kalian dengan segala ketulusan hati yang kalian berikan kepadaku.

Pertanyaan besar selanjutnya yang ada dibenakku sekarang adalah Apakah hambatan tesis akan menghalangiku untuk mewujudkan harapan, dan cita-citaku ???

Salam

by Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s