Lady Gaga, Pertarungan Ideologi ?

29 Mei 2012, Kesan saya pada MAP corner kali ini adalah kurang berwarna, berwarna disini adalah keterlibatan narasumber yang sangat sedikit dalam menguraikan topik, khusunya dari segi durasi waktu kurang lama bila dibandingkan dengan narasumber-narasumber pada pekan-pekan sebelumnya. Kira-kira 30 menit sementara narasumber yang lain lebih dari 30 menit.

Dari segi pemilihan topik, topik kali ini menarik karena mengangkat isu yang santer diberitakan di media-media nasional belakangan ini. Banyak perdebatan disana, yang melibatkan banyak kelompok masyarakat dan syarat akan kepentingan misi-misi khusus yang ingin mereka ingin raih. Dari diskusi terungkap ada kepentingan Ideologi, politik – ekonomi, perang promotor, dinamika sosial masyarakat multikultur dan pengalihat isu.

Dari segi materi berikut analisis2 yang kira2 disampaikan oleh narasumber. Menganalisis Masalah Lady Gaga, Menemukan Identitas Manusia Indonesia pasca Suharto, setidaknya ada 3 kelompok masyarakat/komunitas yang saling tarik-menarik dan saling berbenturan, ingin diakui eksistensinya. Mereka itu adalah Golongan Kejaweean, Religius-Konservatis dan Liberalis progresif. Di masyarakat ketiga kelompok ini terus menerus berdialektika, tak jarang menimbulkan konflik antara ketiga bila  merujuk pada masalah fundamentalis/ dari ajaran-ajaran mereka. Continue reading

Advertisements

Munculnya Kembali Pro Anggaran Publik (Sosialime) Pasca terpilihnya Presiden Prancis, Francois Hollanda

MAP Corner pekan ini, sedikit melompat dari pakem yang biasa mereka ikuti yaitu menyajikan masalah-masalah aktual di dalam negeri atau isu-isu international, yakni peringatan hari kebangkitan nasional dengan diskursus 14 tahun pasca reformasi di Indonesia, dan isu international, terpilihnya Francois Hollanda sebagai presiden prancis menggantikan presiden sebelumnya Nicolas Sarcozy yang sekaligus menjadi pilihan topik pada diskusi kali ini.

Dipilihnya isu terpilihnya Presiden Prancis, Francois Hollanda sebagai topik diskusi MAP Corner ini, menurut analisis saya ada beberapa alasan. Pertama, Isu ini sangat dekat dengan kajian MAP Corner karena erat kaitannya dengan isu-isu sosial dalam hal ini diskursus (Bangkitnya Sosialisme Modern) yang mereka kaji di Fakultas ISIPOL. Kedua, Ketersediaan pembicara yang mengisi acara diskusi, ini bukannya dikarenakan karena tidak adanya pembicara kapabel yang bisa membahas isu-isu nasional tapi mungkin dikarenakan jadwan yang padat dari narasumber-narasumber tersebut. Analisis diatas sedikit menggambarkan latar belakang diangkatnya tema diskusi kali ini. Continue reading

Pendidikan untuk Rakyat Miskin ?

Harapan akan meningkatnya sistem pendidikan di negeri ini sedemikian besar ketika APBN (Anggaran Pembiayaan dan Belanja Negara) untuk tahun 2012 menjadi 20%, angka ini cukup besar mengingat 250 Triliun lebih adalah angka yang cukup besar untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan harapan akan dilahirkan, diciptakan suata generasi dengan kualitas SDM (sumber daya manusia) yang menjanjikan sebagaimana amanat konstitusi yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berbagai kalangan pun mengapresiasi kebijakan pemerintah ini. Namun apakah ini benar-benar seperti yang diharapkan ataukah ada manipulasi angka-angka yang sebenarnya tidak demikian adanya seperti perilaku klise yang diperlihatkan/dicitrakan oleh pemerintahan sekarang ini ? Benar, angka-angka yang tertulis tersebut masih jauh dari mewujudkan cita-cita konstitusi. Beberapa analisis pendidikan mengungkapkan, anggaran data yang besar tersebut tidak serta merta ditujukan untuk pesertadidik yang sebagaimana dia harus diposisikan sebagai subjek kebijakan tapi lebih besar anggaran negara tersebut dihabiskan oleh biaya administrasi yang begitu rumit dan panjang. Continue reading

Penyemangat-Penyemangat Ku

Terhitung Bulan ini, Usia tesisku sudah 8 bulan, kalau dimisalkan kandungan maka tinggal sebulan lagi akan melahirkan bayi. Pertanyaannya, Apakah Tesis itu telah rampung ?? Jawaban ini amat berat kurasa bila melihat progresifitas yang telah kutuliskan dan kuperbuat terhadap tesisku ini. Terbilang lambat mungkin kalau dibandingkan dengan makasiswa-mahasiswa berprestasi yang sering menjadi bintang pada saat wisuda diselenggarakan. Banyak diantara mereka menyelesaikan kuliah Post graduate tidak lebih dari 2 tahun berada dikampus. Kekaguman sekaligus itu selalau muncul dibenakku bila melihat apa yang telah mereka telah capai. Hari-hari teakhir ini kudapatkan berita tak kalah kagumku dengan peraih prestasi tingkat post graduate. Malahan lebih besar lagi rasa kagum itu, yakni berita tentang Mahasiswa Strata 3 bernama Hafizurachman yang menyelesaikan kuliahnya hanya membutuhkan waktu 1 tahun 7 bulan. Sebuah capaian yang prestisus diterohkannya.

Bolehlah prestasi-prestasi itu, digoreskan ke dalam kanvas kehidupan mereka. Lantas apakah prestasi itu pula ingin kutorehkan dalam kanvas hidupku. Entahlah? Mungkin tidak akan bisa lagi bila mengingat keberadaanku di dalam kampus sudah berjalan dua tahun lebih. Demi meneguhkan perjuanganku menyelesaikan Kuliah, saya punya prinsip. Biarlah prestasi itu diukir oleh mereka, tapi belum cukup untuk menjamin akan eksis dikehidupan setelah mengenyam bangku perkuliahan. Walaupun demikian saya tetap optimis dan meyakini dalam hati bahwa biarlah saya tidak berprestasi dikampus namun saya tidak akan kalah dengan kehidupan artinya saya akan berbuat sesuatu yang dibanggakan bila telah ke luar dari bangku perkuliahan nantinya. Continue reading