Menaklukan Arus Besar Waktu yang Menghanyutkan Diri

Sejenak ku berkontemplasi (merenung) seperti apa bentuk mu, segaga apa mukamu, sebening apa hatimu, sekekar apa tubuhmu, hingga tak satupun manusia yang dikenal saktimandraguna menang bila telah berhadap-hadapan denganmu. Orang-orang hendak menjulukimu sebagai sesuatu yang paling sangar, kejam, otoriter karena hanya bisa menjalankan aktivitas atau kegiatan sesuai dengan kemauan mu. Upaya-upaya melawan hanya dianggap angin lalu atau sekuku olehmu.

Karena arus mu yang begitu besar, menggelegar, menembus ruang-ruang yang berada di seantero jagat raya ini menyebabkan semua tunduk dan ikut dengan arus yang coba kau gulingkan. Berpikir bahwa tidak ada yang mampu melawanmu ataupun membunuhmu akhirnya orang-orang terpaksa dan harus mengalah oleh hegemoni raya yang kau mainkan. Belajar dari itu pula orang-orang mulai memodifikasi gerak dan langkahnya supaya tidak termakan oleh mulut berbisamu yang akan membawa kami ke kematian yang tak dianggap.

Orang-orang menamakan mu waktu, kata yang begitu kuasa dan menjadi saksi yang nyata bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. kamu sanggup menyaksikan seluruh proses kehidupan pada manusia, tangan-tangan yang mungil, tumbuh berkembang, akhirnya keriput peot dan tiada. Kamu menyaksikan otak yang beku pada mereka yang tidak menggunakannya dengan maksimal, kamu juga menjadi saksi atas angkara murka dan kebaikan yang pernah ada di dunia ini.

Aku disini termenung meratapi dirimu yang kian menggerogoti hari-hari ku, kuingin bergerak lebih lincah namun keangkuhan nafsu terus menjelma dan membisukan mulutku, mengkakukan kakiku, melemaskan tanganku, menutup mata dan telingaku, dan menuruti khayal ku. Kini ku hanya bisa terbayang-bayang akan harapan yang begitu gemilan di masa depan akan tetapi arah, usaha, dan etos ke arah sana tak mampu menggariskan dirinya di atas kertas kehidupan. Tintanya begitu kabur dan berbayang-bayang.

Aku mencari apakah dibalik semua keambiguan itu, ternyata jawabannya adalah berkompromilah dengan diri, jiwa dan raga mu untuk bersama-sama menaklukkan dan ikut arus waktu, dengan mengarahkan secara tajam ke titik pusaran harapan dan impian masa depan. Bolehlah berharap setinggi langit, namun cepatlah sadarkan diri untuk melihat tanah dimana kita berdiri. Manakah lagi kurangnya diri ini, kalau semua perangkat itu telah ada dan bisa digunakan untuk melakukan hal apapun yang kamu bisa jangkau bahkan yang engkau tiba-tiba surprais jika tiba-tiba suatu mukjizat atau karamah muncul pada dirimu.

Waktu mari bersahabatlah dengan diriku yang kecil, hina ini namun terbesit harapan yang besar ingin menggandeng mu menuju cahaya harapan dan sinar terang-benderang dari kebahagiaan dan kesuksesan meraih hadiah-hadiah Sang Pencipta yang telah Aku rencanakan meraih nya.

6 thoughts on “Menaklukan Arus Besar Waktu yang Menghanyutkan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s