Hikmah Puasa 1 ; Taraweh Pertama

Mungkin sahabat-sahabat blogger merasakan seperti yang sama dengan saya ketika merantau disuatu tempat, kalau saya sekarang di Yogyakarta. Yakni terbengong-bengong dengan bahasa setempat. Ceritanya begini, karena ini taraweh pertama saya, saya menyempatkan diri untuk datang di masjid dekat kost-kost an untuk sholat berjamaah denagn masyarakat sekitar kost an saya. Ada hal yang aneh saya temui, tenyata di masjid tempat saya taraweh tersebut menggunakan bahasa (jawa) Djoga. Kebingungan, tidak paham, itulah yang saya alamai……

Apalah guna bila kita menghadiri suatu majelis, kita tidak bisa mengambil sedikit hikmah dari yang disampaikan oleh Penceraman. Oleh karena itu, di tengah keterbatasan saya memahami bahasa jawa yang dibawakan oleh penceraman, saya mencoba dengan sekuat tenaga untuk memahami apa yang ingin disampaikan penceramah tersebut. Saya akan membaginya bersama sahabat-sahabat Kompasianer disini.

Sudah menjadi kebiasaan di masjid-masjid, yang pertama kali membawakan ceramah adalah pembina, pengasuh, atau ketua masjid tersebut. Begitu pula yang terjadi ditempat saya melakukan sholat Taraweh pertama kali ini. Yang coba disampaikan oleh penceramah pada kesempatan ini sejauh yang saya pahami adalah :

Pertama, Penyampaian terimah kasih atas kesediaan jamaah, telah datang ke masjid ini, dengan niat, dan tekat yang tulus untuk mengharap ridho Allah SWT, disampaikanya mungkin inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan, yakni mampu menggugah hati para jamaah baik laki-laki maupun perempuan tuk datang ke masjid yang mubarakah ini. kemudian dilanjutkan dengan joke, Tapi, fenomena seperti ini seperti juga bulan-bulan Ramadhan sebelumnya hanya terjadi sejita 1/3 awal bulan ramadhan setelah itu, mulai satu persatu hilang dari shaf yang ada kata penceramah tersebut. Hadirinpun tertawa ria.

Menurut saya, masyarakat kita masih banyak yang cenderung menilai bahwa awal ramadhan yang mana masyarakat kita  menuju masjid tuk melakukan sholat taraweh secara berjamaah adalah sebagai budaya sosial. Sehingga hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa mengetahui subtansi dari melaksanakan sholat taraweh yang secara kontinyu. Cendekiawan muslim, Azumardi Arza melalui salah satu media tv pernah megatakan, dia pernah diwawancarai oleh wartawan tv CNN, disebutkan oleh pewarta tersebut, dari hasil survey yang mereka lakukan, 92% umat Islam di Indonesia melakukan taat beragama apalagi dalam menyambut hari-hari besar agama, bulan Ramadhan salah satunya. Akan tetapi survey tentang Korupsi juga masih tetap tinggi. Menanggapi hal tersebut Azumardi Azra mengatakan Masyarakat Muslim Indonesia sebenarnya terperangkap pada rutinitas sosial dalam menyambuat hari-hari besar agamanya. Mereka berpikir dengan melakukan korupsi, kemudian di ikuti oleh bertobat, maka dosanya pun akan hilang. Padahal kalau mau dipahami, tidak seperti demikian yakni dengan bertobat belum tentu akan menghilangkan dosa-dosa korupsi yang kita lakukan. Artinya apa, pemahaman tentang ajaran agama bagi masyarakat kita masih minim.

Kedua, Penceramah mengingatkan kepada jamaahnya bahwa dalam menyambut bulan suci Ramadhan kita harus bersuka cita, bergembira dan ikhlas atas datangnya bulan Ramadhan tersebut. Dengan mengutip sunnah rasul yang artinya : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Oleh karena itu, saya mengajak diri saya dan sahabat-sahabat kompasianer tuk berkonteplasi atau merenungkan sunnah Nabi Besar Muhammad SAW diatas. semoga kita termasuk golongan orang-orang yang disebutkan diatas.

Ketiga, Penceramah menyampaian etika dalam memasuki suatu majelis, atau masjid. Penceramah mengatakan dengan mengambil sunnah Nabi yang subtansinya kurang lebih seperti ini, seharunya imam adalah orang yang terakhir masuk masjid, dan juga orang pertama yang meninggalkan masjid. Di ikuti dengan Joke yakni, “gimana kita mau masuk dalam masjid, imamnya saja masih merokok di luar sana” kata-kata ini diikuti oleh ketawa para hadirin. Penceramah pun mengakui jika himbauan ini tidak serta merta dijalankan oleh para jamaah, dengan berbagai alasan.

Menurut saya, apakah di zaman sekarang berarti sunnah-sunnah yang tidak sesuai lagi dengan jamanya tidak perlu di jalankan lagi ? oleh karena masyarakat kita, cenderung pada kebiasaan-kebiasaan rutinitas yang menyebabkan hal itu tidak dilakukan. Mungkin ini perlu dikaji kembali oleh ulama-ulama kita. Ataukan hanya karena kebebalan kita sebagai seorang manusia yang cenderung abai atas ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Rasul tersebut.

Inilah pengalaman Hari Pertama Taraweh saya, semoga bermanfaat bagi sahabat-sahabat blogger dan bisa dijadikan nasehat, atau peringatan buat kita menjalani bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan seperti sekarang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s