Cerita Seorang Perantau (Adventurer) 1

PERTENGAHAN, 2004 lalu seorang anak yang dilahirkan di sebuah kota kecil bernama BauBau mulai membentangkan sayapnya menuju ke perantauan di seberang lautan sana. Dia dikenal dengan nama pena Umaee, banyak harapan yang ingin diraih, kita kebanyakan pastinya kurang lebih sama. Cita-cita setinggi langit, ingin menaklukkan dunia, yang disaksikan oleh hamparan awan yang melintah di atasnya. Perjalanan pertama itu harus menaklukkan samudra yang luas, melewati selat-selat di antara pulau-pulau, menerjang gelombang yang besar dengan satu tekad. Sekali memutuskan tuk meraih hidup baru tak akan pernah satu langkah pun tuk surut kebelakang……

Dua belas jam telah di laluinya, pulau baru terlah terhampar luas di depan matanya, pulau yang begitu ramai, luas dikelilingi gunung-gunung yang tinggi, di sesaki gedung-gedung perncakar langit, dan diriuhkan suara-suara kendaraan yang lalu lalang. Itu lah dia Makassar atau orang biasa menyebutnya kota daeng. Berada di tempat baru, tidak serta merta membuat dia akrab dengan masyarakat di situ, berbagai aturan sosial dan bentuk budaya harus di pelajari nya, dan ahli antropologi pun mengakui hal tersebut, setiap masyarakat di suatu daerah pasti akan memiliki ke khasanya sendiri-sendiri, tidak terkecuali di Sulawesi Selatan terkhusus Makassar. Tapi dalam keadaan serba ketidaktahuan tersebut mestinya ada hal-hal yang secara universal menyatukan manusia, sebutlah cinta, saling menghormati, saling menghargai, bergotongroyong, murah hati dan selalu welcome terhadap apa pun yang dianggapnya baru, bukan berarti menelannya secara mentah-mentah.

Pelajaran-pelajaran akan budaya baru tersebut memang perlu waktu, dan kesempatan tuk dapat beradaptasi, dengan cara memperbanyak koneksi, pertemanan, mengikuti berbagai macam kegiatan, hingga mendengarkan nasihat dari para senior-senior yang telah lebih dulu menginjakkan kaki dan berkarir di daerah tersebut. Ke khasan Pertama adalah bahasa, Di Sulawesi Selatan sendiri bahasa secara umum dibagi menjadi 2 kategori yakni bahasa Bugis dan bahasa Bugis Makassar dan satu kategori lagi bahasa mandar. bahasa ini digunakan oleh orang toraja dan sekitanya. Bahasa bugis, umumnya kata dan dialektikanya sama yang menjadi perbedaan adalah pengucapan, dan ada sebagian kata yang berbeda. Pengucapannya ini, mulai dari halus orang Bone, Kasar (palopo), dan Sedang (endrekang). Sebenarnya masih ada kabupaten-kabupaten lain yang tak saya sebutkan disini. Kedua adalah warna kulit, ada perbedaan pada masing-masing daerah ada yang coklat, sawo matang, putih langsat, dan ada juga yang campuran. Ketiga adalah prosesi adat, orang bugis sendiri tetap teguh dengan mapacci secara etimologi artinya malu.

Sedangkan dimana Umaee, selalu menghabiskan waktunya adalah di kampus, menariknya di kampus ternyata tidak hanya orang suku bugis, suku bugis makassar, dan suku mandar yang ada melaikan banyak suku, sebutlah suku buton, ada juga suku ambon, maluku, papua, manado, jawa dll yang merepresentasikan Indonesia secara keseluruhan. Akibat interaksi ini, budaya baru lahir di kampus-kampus di kota makassar. Yang sering disebut Budaya Indonesia.

Secara umum itulah kesan pertama Umaee berada di kota Makassar, dengan keteguhan jiwa dan semangat perubahan kearah yang dicita-citakan dia terus dan hambatan PERTAMA adalah menguasai budaya yang ada di daerah tersebut telah diketahuinya. Masalah yang berikutnya akan di bahas di lain waktu

Belum selesai……..

Selasa, 26 Juli 2011

Salam

 Umaee

One thought on “Cerita Seorang Perantau (Adventurer) 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s