Euforia vs Rutinitas Bulan Ramadhan

Photo by bloggersview.com

BULAN Ramadhan tak terasa sebentar lagi kita akan memasukinya, segala kenangan satu tahun yang lalu pada bulan tersebut pada masing-masing orang berbeda ada yang mengakar kuat dalam benaknya ada pula yang sudah tidak ingat lagi. Saya berpikir mengakar kuat tidak cukup tuk memaknai bulan Ramadhan itu, akan tetapi sejauh mana perubahan pada diri kita atas gemblengan bulan Ramahdan tersebut. Apakah ibadah-ibadah kiamul lail seperti tarwih, tahadjud, witir, juga rutinitas membaca dan menghatamkan Qur’an itu tetap dilakukan, bersamaan dengan itu esensi ajaran di dalamnya kita aplikasikan kedalam kehidupan kita sehari-hari. Sedangkan yang tidak mengingatnya semua ibadah-ibadah yang pernah dilakukanya seperti berpuasa, mengaji, sholat kiamul lail tidak membekas sedikit pun dalam kehidupannya setelah bulan Ramadhan berakhir……

Tidak lebih dari seminggu lagi kita akan memasukinya, banyak hal yang kita persiapkah, bagi kaum wanita, pada hari-hari sekarang ini kebanyakan seolah berlomba-lomba menyelesaikan tunggakan atau utang puasanya pada Ramadhan tahun lalu. Para ibu sibuk memikirkan perencanaan keuangannya, sibuk memborong makanan sembako & makanan penghidang berbuka puasa, kerena sudah menjadi rutinitas di negeri ini harga-harga kebutuhan pokok akan meninggi menjelang awal-awal puasa. Kaum pria sibuk berhias diri dengan membeli pakaian beribadah, kopiah, sajadah, baju koko guna dipakainya tuk melakukan shalat tarawih berjamaah di masjid. Apakah ini berkah dari bulan ramadhan ataukah cuman ajang tuk pamer, suapaya di bilang sebagai orang taat beragama walaupun setelah itu kembali lagi ke keadaan semula ?

Para remaja atau kaula muda pun tidak mau ikut ketinggalan mode-mode pakaian terbaru habis diborongnya, parfum-parfum mahalpun diembatnya selidik kita selidik ternyata Bulan Ramadhan digunakan sebagai ajang tuh mencari jodoh. Tidak jarang di masjid-masjid kita melihat muda-mudi bercengkrama mengambil kesempatan tuk terbarpesona disaat pencerama penuh semangat menyampaikan tauziahnya. Saya teringat teman saya di kampung kebetulan waktu itu dia masih jomblo, kaget itulah yang terbayang pada waktu itu, ko ! teman saya ini hari-harinya jarang mandi, pernah dia bercerita kadang dua hari sekali baru mandi, tiba-tiba begitu berubanya 360 derajat, bajunya diseterika, parfumnya uhh !!! sangat menyengat, rambutnya disisir rapi belah samping mengkilat lagi, ini karena banyaknya minyak rambut yang dia pakai begitu necesnya bejalan menuju masjid. Di dalam hati saya berbisik apakah ini berkah Bulan Ramadhan ?

Apapun itu, saya pikir bulan Ramadhan harus menjadi bulan penyucian diri kita atas dosa-dosa yang kita lakukan setahun yang lalu baik itu yang sengaja atau tidak sengaja, yang kita ketahui mapun yang tidak kita ketahui. Intinya adalah penyucian batin. Dengar harapan yang demikian itu hendaknya disaat sekarang yang mesti kita lakukan adalah mempersiapkan diri menyambunya tertutama saya sendiri memohon maaf kepada seluruh kerabat, teman dekat termasuk sahabat-sahabat sekampus atas segala ketidak berkenannya atas ucapan, tindakan dan  tulisan saya di hati kalian

Minggu, 24 Juli 2011

                                                                                                                                                                                                                                                             Salam

 Umaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s