Peringatan Hari Anak Nasional di Desa Hargotirto

TANGGAL 23 Juli 2011, adalah hari yang cukup berarti buat anak-anak di negeri ini, karena hari itu diseluruh Indonesia di peringati sebagai Hari Anak Nasional Indonesia, pemerintah sendiri mengadakan puncak acara Hari Anak Nasional ini di Ancol, Jakarta. Namun kondisi ini tidak semua anak Indonesia senang di karenakan tidak dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan hanya diwakilkan oleh Wapres Budiono. Faktor ketidaksenangan ini karena rencana pembacaan Deklarasi oleh anak Indonesia sebagai bentuk suara mereka agar di dengar pemeritas, padahal sebelumnya mereka merampungkan deklarasi ini di Bandung tanggal 18 juli lalu.

Saya tidak menceritakan diri saya disini gimana perasaan sebagai anak, tapi saya ingin ikut andil dalam peringatan Hari Anak Nasional Indonesia kali ini dengan cara ikut melakukan pengambdian kepada masyarakat yang di adakan oleh LPPM (Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat) UGM dalam bentuk pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan anak. Tempatnya di desa Hargotirto, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Instimewa Yogyakarta……

Suasana penyuluhan *foto by Umaee

Perjalanan ke desa Hargotirto ini, tidak semudah seperti yang saya perkirakan pada waktu berangkat, perjalannya sih cukup mengasikkan karena cukup ramai, ada empat mobil saling berkonfoi, dan saya sendiri ditemani teman-teman dari Fakultas Kedokteran UGM bagian farmasis. Suasana di dalam mobil pun cukup ramai awal-awal namun, perjalanan kita mendebarkan ketika mulai memasuki daerah hutan di pegununan dan perbukitan. Rute yang dilalui penuh dengan tanjakan yang sangat tinggi dan berjenjang-jenjang. tanjakan pertama dilewati kemudian menikung yang tanjakan berikutnya sudah terpampang di depan kami dengan kiri dan kanan jalan sangat curam mengingatkanku apakah ini bagian kecil dari Laufuz Ma’fuz pada hari Akhiran nanti ya ?, menyebabkan mobil konfoi kami harus menggunakan gir satu, dua dan sesekali gir 3. Dalam keadaan seperti ini, tak seorang pun dari kami berbincang-bincang, keramaian diawal-awal perjalanan tadi seolah membisu, perasaan saya pun penuh dengan was-wasan. Adapun suara yang kami dengar hanya suara jangkrik hutan dan suara mobil yang ikut bersama kami.

Rasa itu susah terbayangkan, disaat kami was-was, bersamaan dengan itu kami disuguhkan pemandangan yang Indah disebelah kiri dan kanan kami, pohon-pohon kelapa, pinus, akasia, rumput-rumput hutan saling berjajar dengan warna hijau yang sangat segar hingga menusuk ke dalam perasaan kami, setidaknya itu yang saya rasakan pada diri saya. Selain pohon-pohon tadi kami pun juga melewati waduk yang sangat besar di bawah kami, dikelilingi bukit dia membentang luas seolah samudra kecil dan kami seolah awan yang memantau dari ketinggian. Dalam hati saya berbisik Alangkah Indah nan asri Ciptaan Mu ini ya Allah.

Dua jam sudah kami habiskan diperjalanan, kini kami tiba di desa Hargotirto, kami langsung turun dari mobil dan sudah menunggu para ibu besarta anaknya, mereka ternyata sangat antusias tidak seperti yang saya bayangkan. Saya berpikir ini lah perbedaan masyarakat kota dan desa. Kekerabatan dan kekeluargaan itu sangat kenal ditandai dengan pengumuman  yang dilakukan oleh kepala desan begitu cepat sampai ke warga tanpa capek-capek berulang-ulang kali diingatkan. Beda dengan masyarakat kota, seberapapun banyaknya pengumunan yang kamu lakukan tetap saja mereka bergeming dan pikir-pikir untuk ikut dalam acara tersebut. Kedatangan kami pun disambut dengan grup gamelan mereka.

warga hargotirto *foto by Umaee

Group Gamelan *foto by Umaee

Kegiatan kami pun dimulai masing-masing menjalankan tugas nya, penyuluhan dimulai tentang malaria, tetang THT, tetang mata, sama dengan dokter-dokter yang ada yang ikut bersama kami. ada tiga ruangan yang kami pakai, bagungan yang kami gunakan cukup bagus dan ini adalah hasil sumbangan dari SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) dan UGM. bagian Umum dan THT di gabung menjadi satu ruangan, kami farmasis juga satu ruangan dan bagian mata juga satu ruangan. Suasana pemeriksaan berjalan dengan baik, dan teratur karena masing-masing pasien anak yang akan memeriksakan diri diberi nomor antrian

proses penimbangan *foto by Umaee

kawan-kawan farmasis *foto by Umaee

Dari sejak dimulai 10.00 sampai 13.00 semua proses teratur, terkendali dan banyaknya pasien yang sempat kami adalah 200 an lebih, semoga kegiatan ini makin menjadikan kita terutama saya makin dewasa dan peduli pada sesama. Saya sendiri merasakan ada rasa yang legah, puas setiap kali menolong dan mengabdi kepada masyarakat di negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s